JAKARTA, Cobisnis.com – Ledakan besar dilaporkan mengguncang pusat kota Dubai di tengah meningkatnya eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Ledakan ganda tersebut dilaporkan mengguncang sejumlah gedung di kawasan pusat keuangan Dubai. Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi di langit kota yang dikenal sebagai pusat bisnis Timur Tengah itu.
Pemerintah Uni Emirat Arab menyatakan salah satu gedung di pusat kota terkena puing dari objek yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Pihak berwenang menyebut puing tersebut berasal dari serangan yang diarahkan ke wilayah Dubai namun berhasil dihentikan sebelum mencapai target utama.
Menurut keterangan resmi, sejauh ini tidak ada laporan korban luka dalam insiden tersebut meskipun ledakan sempat membuat kepanikan di sejumlah kawasan.
Pemerintah UEA juga mengungkapkan bahwa selama perang berlangsung, sistem pertahanan udara mereka telah mencegat lebih dari 1.500 drone Iran dan hampir 300 rudal.
Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah sejak perang dimulai pada akhir Februari lalu.
Konflik dipicu oleh serangan terhadap ibu kota Iran, Teheran, yang kemudian memicu rangkaian balasan militer dari berbagai pihak di kawasan.
Sejak saat itu, sejumlah negara di Teluk mulai menjadi sasaran serangan karena dianggap memiliki hubungan militer atau politik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dubai sendiri merupakan salah satu pusat ekonomi dan transportasi terbesar di kawasan. Bandara internasionalnya termasuk yang paling sibuk di dunia dan menjadi jalur penting perdagangan global.
Selain bandara, beberapa lokasi penting seperti pelabuhan dan kawasan wisata mewah seperti Palm Jumeirah dan hotel ikonik Burj Al Arab juga disebut pernah menjadi sasaran ancaman serangan.
Uni Emirat Arab diketahui menjadi salah satu negara yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Selain itu, negara tersebut juga memiliki hubungan diplomatik yang semakin dekat dengan Israel setelah menormalisasi hubungan beberapa tahun lalu.
Kondisi tersebut membuat negara-negara Teluk, termasuk UEA, berada dalam posisi rentan di tengah eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.