JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam pada perdagangan Senin (2/3) setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas. Indeks bahkan sempat menyentuh level 8.000-an di awal sesi.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat melemah 1,58% ke posisi 8.105,76 sekitar pukul 09.05 WIB. Tak lama kemudian, tekanan jual makin dalam hingga indeks turun 2,32% ke level 8.039,50.
Meski sempat mencoba bangkit, IHSG tetap berada di zona merah dengan koreksi 1,72% di level 8.094,18. Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian global.
Volume perdagangan tercatat mencapai 24,95 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,67 triliun. Mayoritas saham bergerak negatif dengan 638 saham melemah, 105 saham menguat, dan 69 saham stagnan.
Tekanan pasar dipicu eskalasi geopolitik setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menyerang Iran pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Kabar tersebut langsung mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Investor cenderung melakukan aksi jual untuk mengamankan aset di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Pejabat sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyatakan volatilitas IHSG hari ini sangat dipengaruhi faktor eksternal. Ia menilai situasi global memang sedang sensitif.
Jeffrey mengimbau investor tetap rasional dalam mengambil keputusan. Menurutnya, strategi investasi harus disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing dan tetap berpatokan pada fundamental emiten.
Ia menekankan bahwa gejolak seperti ini biasanya bersifat jangka pendek, meski tetap perlu diwaspadai. Pasar saham cenderung cepat bereaksi terhadap isu perang karena berdampak pada harga energi, arus modal, dan stabilitas ekonomi global.
Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah dan aliran dana asing. Ketika risiko global naik, investor asing biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan lanjutan konflik di Timur Tengah. Stabilitas kawasan tersebut sangat menentukan arah pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.