JAKARTA, Cobisnis.com - Konflik di Timur Tengah mulai menekan pasar energi global. Harga minyak, LPG, hingga LNG naik di banyak negara.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan energi menjadi kebutuhan utama saat krisis terjadi. Selain pangan, energi jadi sektor yang paling dijaga negara.
Menurut Komaidi, lonjakan harga energi lebih dipicu faktor geopolitik. Kondisi makin berat setelah jalur distribusi global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Gangguan distribusi membuat pasar khawatir. Dampaknya, harga minyak dunia terdorong naik lebih tinggi.
Kenaikan minyak ikut memicu lonjakan harga LPG dan LNG global. Di Indonesia, LPG industri non subsidi 50 kilogram juga ikut naik.
Harga LPG industri melonjak sekitar 25 sampai 26 persen. Nilainya naik dari US$ 21,9 menjadi US$ 28,3 per MMBtu.
Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kilogram naik dari Rp 850 ribu menjadi Rp 1,06 juta per tabung. Kenaikan mulai terasa di sektor industri.
BBM non subsidi juga terdampak. Harga solar industri naik dari sekitar Rp 14.200 menjadi Rp 26.000 hingga Rp 27.900 per liter.
Komaidi mengatakan banyak negara mulai memperkuat ketahanan energi. Langkah itu dilakukan lewat diversifikasi sumber energi dan penyesuaian kebijakan.
Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai menyesuaikan harga energi domestik. Negara ASEAN kini makin bergantung pada LNG global.
Data pasar energi Asia menunjukkan lonjakan tajam sepanjang 2026. Indeks JKM dan JCC bahkan naik lebih dari 90 persen.
Kondisi itu ikut mendorong kenaikan ICP atau harga minyak mentah Indonesia. Pemerintah dinilai perlu menyesuaikan harga energi non subsidi dengan pasar global.