JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih enggan bertemu langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Pezeshkian, pertemuan sulit dilakukan selama Washington masih memberikan tekanan terhadap Teheran.
Pezeshkian menyebut tekanan tersebut mencakup sanksi ekonomi dan ancaman serangan terhadap Iran. Kondisi itu membuat hubungan kedua negara masih dibayangi ketidakpercayaan.
Dalam wawancara dengan program Face the Nation, Pezeshkian mengatakan ketidakpercayaan tersebut muncul setelah sejumlah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat tidak berujung pada pelaksanaan kesepakatan yang telah dibuat.
Ia menyebut terdapat kesepakatan tertulis yang menurutnya tidak dijalankan Washington. Karena itu, Iran masih mempertanyakan apakah kesepakatan baru nantinya benar benar akan dipatuhi.
“Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka,” ujar Pezeshkian.
Pezeshkian juga menyinggung peningkatan sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran. Ia mengatakan ancaman dan serangan yang terus berlangsung turut memperbesar keraguan Teheran terhadap Washington.
“Setiap hari, mereka meningkatkan sanksi terhadap kami. Setiap hari, mereka mengancam kami, menyerang kami, dan mereka tidak menghormati apa yang telah mereka tulis,” kata Pezeshkian.
Menurutnya, persoalan kepercayaan perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum pertemuan langsung dengan Trump dapat dilakukan. Iran ingin mengetahui tujuan pembicaraan sekaligus memastikan hasil kesepakatan nantinya benar benar dijalankan.
Trump sebelumnya menyatakan terbuka untuk bertemu dengan pejabat Iran di New York saat Sidang Majelis Umum PBB berlangsung. Pezeshkian dan sejumlah pejabat Iran memang berada di kota tersebut untuk menghadiri agenda tahunan PBB.
Dalam perkembangan terbaru, Iran juga mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir. Proposal itu mensyaratkan sejumlah langkah dari Amerika Serikat, termasuk pencabutan blokade laut dan keringanan sanksi terhadap penjualan minyak Iran.
Trump kemudian menolak proposal tersebut. Situasi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi sejumlah hambatan, meski komunikasi melalui perantara tetap berlangsung.