Program Cetak Sawah di Papua Selatan Diklaim Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Oleh Hidayat Taufik pada 06 Jul 2026, 12:16 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Pemerintah terus mendorong pengembangan kawasan pertanian modern di Papua Selatan guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Kawasan ini dipersiapkan menjadi salah satu pusat produksi pangan baru melalui program cetak sawah yang didukung mekanisasi serta pembangunan berbagai infrastruktur pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa program cetak sawah lahir dari usulan masyarakat. Ia menegaskan lahan yang dikembangkan tetap menjadi hak milik warga, sementara pemerintah memberikan dukungan berupa fasilitas dan sarana pertanian untuk meningkatkan hasil produksi.

Saat ini, program cetak sawah telah mencakup lahan seluas 83.030 hektare di sejumlah wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, Papua Selatan menjadi daerah dengan luasan terbesar, yakni 48.934 hektare. Selain itu, pemerintah juga melakukan optimalisasi lahan seluas 53.499 hektare sehingga total kawasan produksi pangan yang disiapkan mendekati 100 ribu hektare.

Pada 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 triliun untuk mempercepat pengembangan kawasan tersebut. Anggaran itu dimanfaatkan untuk pengadaan benih unggul, alat dan mesin pertanian, pembangunan Rice Milling Unit (RMU), fasilitas pengering gabah, gudang penyimpanan, serta infrastruktur penunjang lainnya.

Amran mengatakan pemerintah juga memberikan pendampingan kepada petani dan memastikan hasil panen dapat terserap dengan harga yang menguntungkan sesuai arahan Presiden.

Pemanfaatan teknologi pertanian modern di Merauke, mulai dari traktor, drone pertanian, rice transplanter hingga combine harvester, dinilai mampu meningkatkan produktivitas gabah dari sekitar 3 ton menjadi 4 sampai 7 ton per hektare.

Selain itu, pemerintah menargetkan peningkatan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali musim tanam setiap tahun agar produksi pangan nasional terus bertambah secara berkelanjutan.

Berdasarkan data pemerintah daerah, pendapatan petani di kawasan pengembangan disebut meningkat hingga 300 persen setelah memanfaatkan program cetak sawah dan mekanisasi pertanian. Capaian tersebut mendorong petani mengusulkan penambahan sekitar 2.000 hektare lahan cetak sawah baru di Papua Selatan.

Pemerintah memperkirakan nilai ekonomi kawasan pertanian itu dapat meningkat dari sekitar Rp1,3 triliun menjadi Rp13 triliun per tahun apabila produktivitas mencapai 7 ton per hektare dan target tiga kali masa tanam dapat direalisasikan.

Di akhir keterangannya, Amran mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi dalam membangun sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.