Restrukturisasi Berbasis AI Meluas, Lebih dari 160.000 Pekerja Teknologi Terkena PHK

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 12 Jul 2026, 17:50 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Perusahaan teknologi global semakin agresif mengalihkan investasi ke pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Di balik strategi tersebut, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terus terjadi dan telah berdampak pada lebih dari 160.000 pekerja hingga pertengahan 2026.

Microsoft menjadi salah satu perusahaan yang kembali melakukan efisiensi. Perusahaan memangkas sekitar 4.800 posisi atau 2,1 persen dari total tenaga kerja global, dengan pengurangan terbesar terjadi di divisi Xbox dan bisnis penjualan komersial.

Meski demikian, Microsoft menegaskan PHK tersebut bukan karena AI menggantikan karyawan secara langsung. Chief People Officer Amy Coleman mengatakan AI telah mengubah cara banyak pekerjaan dilakukan sehingga perusahaan menyesuaikan struktur organisasi agar lebih efisien. Microsoft juga menawarkan pensiun sukarela dan memindahkan sekitar 4.000 karyawan ke posisi baru selama setahun terakhir.

Restrukturisasi serupa juga dilakukan sejumlah perusahaan teknologi lainnya. Mengutip TechCrunch, banyak perusahaan tetap membukukan pertumbuhan pendapatan, tetapi memilih mengurangi jumlah tenaga kerja sambil memperbesar investasi di bidang AI, pusat data, dan infrastruktur digital.

Oracle tercatat sebagai perusahaan dengan pengurangan tenaga kerja terbesar dalam 12 bulan terakhir, yakni sekitar 21.000 pekerja atau 13 persen dari total karyawan. Sementara itu, Meta memangkas sekitar 8.000 pekerja, tetapi juga mengalihkan sekitar 7.000 pegawai ke posisi yang berfokus pada pengembangan AI.

Selain Oracle dan Meta, Cisco, Intuit, Cloudflare, Snap, hingga Atlassian turut menjalankan restrukturisasi. Mayoritas perusahaan menyebut langkah tersebut bertujuan mengalihkan sumber daya ke pengembangan AI, keamanan siber, silikon, dan pusat data.

Meski PHK terus bertambah sepanjang 2026, perusahaan teknologi menilai AI bukan pengganti tenaga kerja secara menyeluruh. Transformasi yang terjadi lebih banyak mengubah jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan, sehingga perusahaan terus menyesuaikan komposisi organisasinya di tengah percepatan adopsi teknologi.