Rusia Bantah Dokumen Ukraina Buktikan 8 WNI Gabung Militer

Oleh Hidayat Taufik pada 05 Sep 2026, 13:57 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Kedutaan Besar Rusia di Indonesia membantah tudingan bahwa delapan warga negara Indonesia (WNI) telah bergabung dengan militer Rusia.

Pihak Kedubes Rusia menilai dokumen yang sebelumnya dipublikasikan oleh Kedutaan Besar Ukraina tidak cukup untuk membuktikan keterlibatan delapan WNI tersebut dalam Angkatan Bersenjata Rusia.

Menurut Rusia, dokumen yang ditampilkan Ukraina berupa salinan e-visa dan kartu migrasi hanya menunjukkan aktivitas perjalanan ke Rusia untuk kepentingan wisata. Dokumen tersebut dinilai tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah bergabung dengan militer.

"Ini merupakan kampanye disinformasi yang didorong propaganda. Salinan e-visa dan kartu migrasi untuk perjalanan wisata yang dipublikasikan Kedutaan Besar Ukraina bukan merupakan bukti bergabungnya seseorang dalam dinas militer," demikian pernyataan resmi Kedubes Rusia dikutip dari berbagai sumber , Sabtu (5/9/2026).

Atase Bidang Pers dan Media Kedubes Rusia untuk Indonesia, Alexander Tumaykin, turut mengonfirmasi bahwa pernyataan tersebut merupakan sikap resmi institusinya.

"Ya, ini pernyataan resmi oleh Kedubes," ujar Alexander kepada Kompas.com.

Dalam pernyataannya, Rusia juga menuduh Ukraina melakukan upaya perekrutan warga negara asing untuk bergabung dalam militernya.

Kedubes Rusia menyebut perekrutan tersebut dilakukan ketika Ukraina menghadapi kerugian besar akibat perang. Rusia bahkan mengklaim lebih dari 700.000 orang meninggal dunia dan sekitar 1 juta lainnya mengalami luka-luka dalam konflik tersebut.

Namun, klaim mengenai jumlah korban itu disampaikan Kedubes Rusia tanpa mencantumkan sumber data yang menjadi dasar perhitungannya.

Rusia juga merujuk pada klaim Kementerian Pertahanan Ukraina mengenai rencana agar warga asing menjadi bagian dari 30 hingga 50 persen personel militernya dalam jangka panjang.

Menurut Kedubes Rusia, Ukraina menggunakan jaringan misi diplomatik serta organisasi yang memiliki hubungan dengan negara tersebut untuk mencari dan merekrut warga asing.

"Puluhan ribu warga negara dari negara-negara lain saat ini bertugas di tentara Ukraina. Ribuan orang tewas, warga negara Indonesia juga termasuk di antaranya," demikian pernyataan Kedubes Rusia.

Kedubes Rusia kemudian menghubungkan munculnya informasi mengenai delapan WNI tersebut dengan agenda Presiden Prabowo Subianto di Rusia.

Prabowo diketahui menghadiri XI Eastern Economic Forum (EEF) yang berlangsung di Vladivostok. Rusia menilai publikasi mengenai dugaan keterlibatan delapan WNI muncul pada waktu yang berdekatan dengan kunjungan tersebut.

"Jelas bahwa kampanye disinformasi anti-Rusia yang dilakukan Kedutaan Besar Ukraina bertepatan dengan keikutsertaan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam XI Eastern Economic Forum di Vladivostok dan bertujuan merusak hubungan Rusia-Indonesia," demikian pernyataan Kedubes Rusia.