Jamkrindo

Rusia Kembali Lancarkan Serangan Malam Hari Ke Kota-Kota Besar Ukraina Setelah Jeda Singkat Putin Dan Trump Berakhir

Oleh Zahra Zahwa pada 03 Feb 2026, 20:24 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah kota besar Ukraina serta infrastruktur energi pada Selasa malam waktu setempat, mengakhiri jeda singkat yang sebelumnya disepakati antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Serangan ini memutus pasokan pemanas bagi ribuan warga di tengah suhu musim dingin yang ekstrem.

Terdengar beberapa ledakan keras di berbagai titik kota. Pemerintah Ukraina menyebut serangan tersebut menyasar wilayah Kyiv, Dnipro, Kharkiv, Sumy, Odesa, dan sejumlah daerah lain, dengan target utama fasilitas energi serta kawasan permukiman.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya setuju untuk menghentikan serangan terhadap kota-kota besar dan infrastruktur energi Ukraina hingga Minggu, menyusul apa yang disebut Kremlin sebagai “permintaan pribadi” dari Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan itu juga terjadi setelah perundingan trilateral antara Rusia, Ukraina, dan AS di Abu Dhabi yang merupakan pertemuan pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Namun, menurut Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, Rusia kembali melanggar jeda tersebut. Wali Kota Kyiv Vitaliy Klitschko mengatakan hampir 1.200 gedung apartemen di dua distrik ibu kota kehilangan pasokan pemanas akibat serangan tersebut.

Kepala Administrasi Militer Kyiv, Tymur Tkachenko, melaporkan beberapa bangunan tempat tinggal bertingkat dan sebuah taman kanak-kanak mengalami kerusakan. Layanan Darurat Negara Ukraina menyebut sedikitnya tiga orang terluka dalam serangan di Kyiv. Rekaman video memperlihatkan api besar melalap gedung apartemen, sementara tim penyelamat bekerja dalam suhu beku.

Di Dnipro, wilayah Ukraina timur, Angkatan Udara Ukraina melaporkan adanya serangan rudal balistik. Sementara itu, kota terbesar kedua Ukraina, Kharkiv, juga diserang rudal dan drone Rusia yang merusak infrastruktur energi, menyebabkan sedikitnya 820 gedung apartemen kehilangan pemanas.

“Tujuannya jelas: menyebabkan kerusakan maksimal dan meninggalkan kota tanpa pemanas di tengah cuaca beku ekstrem,” ujar Wali Kota Kharkiv Ihor Terekhov.

Warga Kyiv dilaporkan berada di bawah peringatan serangan udara selama tujuh jam. Suhu di Kyiv mencapai minus 20 derajat Celsius, sementara di Kharkiv turun hingga minus 25 derajat Celsius. Warga terlihat berlindung di stasiun metro dengan mantel tebal, topi, serta selimut.

Ini merupakan serangan pertama terhadap fasilitas energi dan kota besar sejak Kamis lalu, meskipun Rusia tetap melancarkan serangan ke jalur logistik dan transportasi dalam beberapa hari terakhir.

Menjelang perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung Rabu dan Kamis di Abu Dhabi, perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, menyatakan serangan terbaru menghantam pembangkit listrik tenaga panas dan merusak peralatan vital. CEO DTEK menyebut perusahaan kini berada dalam “mode bertahan hidup” karena kondisi sistem energi Ukraina yang disebut sebagai yang terburuk dalam sejarah modern negara tersebut.