Sinergi Multi Rangkul Denico, Ekspansi ke Pasar Global

Oleh Rizki Meirino pada 15 Oct 2026, 07:53 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menjalin kerja sama strategis dengan produsen bahan tambahan pangan asal Denmark, Denico Food Ingredients, melalui pelepasan 50 persen saham anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom/SAS). Langkah ini ditujukan untuk memperluas bisnis bahan baku pangan olahan sekaligus membuka akses ke pasar internasional, terutama Asia dan Timur Tengah.

Direktur Utama SMLE Siu Min menjelaskan, transaksi tersebut dilakukan melalui divestasi saham eksisting, bukan pembentukan perusahaan patungan atau joint venture baru. Proses transaksi ditargetkan rampung pada Januari hingga Februari 2027, sementara SMLE tetap memegang kendali penuh atas operasional Sinarom.

“Dengan adanya Denico mengambil alih 50 persen saham SAS, kami memiliki keyakinan bahwa bisnis Sinar Aroma sendiri bisa dieskalasi ke arah yang lebih besar. Kami juga bisa memanfaatkan pasar yang sudah terbentuk oleh Denico, terutama di Asia dan Timur Tengah,” ujar Siu Min dalam paparan publik perseroan.

Kerja sama SMLE dan Denico dinilai memiliki potensi strategis berkat pengalaman Denico di industri bahan tambahan pangan. Perusahaan asal Denmark tersebut telah beroperasi sejak 2001 dan memiliki portofolio lebih dari 800 jenis bahan baku pangan. Sekitar 80 persen penjualannya berasal dari pasar ekspor di luar Uni Eropa.

Denico juga memiliki sertifikasi keamanan pangan International Featured Standards (IFS) Food serta izin dari Otoritas Kedokteran Hewan dan Makanan Denmark (DVFA). Selain itu, perusahaan tersebut mengoperasikan lini produk business-to-business (B2B) bersertifikat halal untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan daging, produk susu, dan makanan laut.

Kehadiran Denico akan mendorong transformasi Sinarom, yang didirikan pada 2024 dan sebelumnya berfokus pada peracikan perisa serta campuran minyak rempah. Melalui transfer teknologi dan formulasi dari Eropa, perusahaan tersebut akan dikembangkan menjadi New Sinarom dengan cakupan produk yang lebih luas.

New Sinarom direncanakan memasuki lima kategori bisnis baru, yakni solusi untuk daging olahan dan unggas, mayones dan saus, produk susu dan es krim, pemrosesan makanan laut, serta bumbu makanan ringan. Perluasan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan industri pangan olahan berskala besar.

SMLE membidik pasar domestik sebagai fondasi awal pengembangan bisnis dengan potensi nilai pasar sekitar 50 juta hingga 76 juta dollar AS. Untuk memperluas jangkauan ke Timur Tengah dan Afrika Utara, perusahaan akan memanfaatkan jaringan serta kantor operasional Denico di Dubai.

“Indonesia diposisikan sebagai basis produksi bahan baku untuk pasar regional. Jadi untuk New Sinarom, bisnis yang kami targetkan itu bukan hanya untuk di Indonesia saja, tetapi untuk skala di Asia, Asia Tenggara, dan sampai ke Timur Tengah,” kata Siu Min.

Dari sisi operasional, Denico telah mengevaluasi fasilitas pabrik Sinarom dan menilai kapasitasnya perlu diperbesar untuk mengakomodasi peningkatan volume produksi. Rencana pengembangan tersebut sejalan dengan komitmen Denico untuk mengalihkan sebagian kegiatan manufakturnya ke Indonesia.

Menurut Siu Min, sejumlah produk yang sebelumnya diproduksi Denico di Belanda berpotensi dialihkan ke fasilitas produksi di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat bisnis Sinarom yang telah berjalan sekaligus mempercepat peningkatan skala produksi.

“Mereka bersedia untuk membuat produk-produk yang tadinya mereka buat di Belanda untuk beberapa dialihkan ke pabrik yang ada di Indonesia. Jadi ini otomatis akan memperkuat bisnis yang sudah ada eksisting, sehingga kita bisa langsung scale up,” jelas Siu Min.

Terkait nilai akuisisi, manajemen SMLE menyatakan bahwa harga final transaksi belum ditetapkan karena masih menunggu hasil evaluasi penilai independen pihak ketiga. Penilaian tersebut menjadi dasar penentuan nilai transaksi, bukan semata-mata berdasarkan audit internal perseroan.

Manajemen juga belum menyampaikan proyeksi spesifik mengenai pendapatan dan laba setelah Denico masuk sebagai pemegang saham Sinarom. Peta bisnis serta potensi volume produksi yang akan dialihkan dari Belanda masih dalam tahap finalisasi melalui proses uji tuntas atau due diligence yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Apabila seluruh persetujuan regulator dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terpenuhi, fasilitas produksi di Indonesia dijadwalkan mulai memasok jaringan pasar Denico secara penuh pada semester II-2027. Dengan rencana tersebut, SMLE menargetkan Indonesia menjadi basis produksi strategis untuk mendukung ekspansi bahan baku pangan olahan ke pasar regional dan internasional.