JAKARTA, Cobisnis.com – Spirit Airlines akhirnya mencapai kesepakatan dengan para kreditur yang memungkinkan maskapai bertarif rendah tersebut keluar dari proses kebangkrutan dan terhindar dari ancaman penutupan operasional.
Maskapai yang sempat menghadapi kerugian berkepanjangan dan dua kali pengajuan kebangkrutan itu mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah menyepakati restrukturisasi utang.
Spirit diperkirakan akan resmi keluar dari kebangkrutan pada akhir musim semi atau awal musim panas tahun ini. CEO Spirit, Dave Davis, mengatakan perusahaan akan bangkit sebagai kompetitor yang lebih ramping dan lebih kuat.
“Spirit akan muncul sebagai pesaing yang kuat dan lebih efisien, yang diposisikan untuk secara menguntungkan memberikan nilai yang diharapkan konsumen Amerika dengan harga yang ingin mereka bayar,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Sebagai maskapai berbiaya ultra-rendah, Spirit dikenal menawarkan tarif dasar sangat murah namun mengenakan biaya tambahan untuk berbagai layanan ekstra.
Namun sejak pandemi, perusahaan kesulitan menekan kerugian karena preferensi penumpang bergeser ke pengalaman perjalanan yang lebih nyaman, bukan sekadar harga murah.
Meski perusahaan yang keluar dari kebangkrutan umumnya memiliki beban utang dan biaya operasional lebih rendah, Spirit dalam beberapa tahun terakhir berulang kali memperingatkan investor adanya “keraguan substansial” terhadap kelangsungan usahanya.
Keberadaan Spirit dinilai penting bagi pasar penerbangan AS, bahkan bagi penumpang yang tidak pernah menggunakan layanannya. Model tarif murah Spirit memaksa maskapai besar seperti Delta Air Lines dan United Airlines untuk menyediakan kursi tanpa fasilitas tambahan demi tetap kompetitif. Jika Spirit tutup, tarif penerbangan secara luas diperkirakan akan meningkat.
Namun, Spirit akan keluar dari kebangkrutan sebagai perusahaan yang jauh lebih kecil dibanding sebelum pengajuan pada November 2024. Maskapai telah menjual sejumlah pesawat dan slot gerbang bandara untuk mengumpulkan dana serta mengurangi utang, sekaligus memangkas jumlah karyawan secara signifikan. Menurut data firma analitik penerbangan Cirium, pada musim perjalanan musim panas mendatang Spirit akan menawarkan hampir 40% lebih sedikit penerbangan dan kursi dibanding periode yang sama pada 2024, sebelum kebangkrutan.
Dalam kesepakatan terbaru ini, Spirit akan tetap menjadi maskapai independen. Sebelumnya, maskapai AS kerap diakuisisi saat bangkrut lalu digabungkan dengan operator lain. Pada Februari 2022, Spirit sempat menyetujui merger dengan Frontier Airlines.
Namun kesepakatan tersebut batal setelah JetBlue Airways mengajukan penawaran lebih tinggi yang disukai pemegang saham Spirit. Akan tetapi, rencana akuisisi oleh JetBlue akhirnya diblokir hakim federal pada Januari 2024 dengan alasan melanggar undang-undang antimonopoli dan berpotensi merugikan konsumen melalui kenaikan tarif.
Dengan restrukturisasi ini, Spirit berharap dapat mempertahankan posisinya sebagai maskapai berbiaya rendah di tengah persaingan industri penerbangan AS yang semakin ketat.