Jamkrindo

Substitusi Kakao Berpotensi Atasi Fenomena “Chocflation”

Oleh Zahra Zahwa pada 22 Jan 2026, 15:26 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Fenomena “chocflation” atau melonjaknya harga cokelat kini meninggalkan rasa pahit bagi para pecinta cokelat di berbagai belahan dunia. Sejumlah merek besar seperti Lindt dan Hershey tercatat menaikkan harga hingga dua digit tahun lalu, seiring lonjakan harga kakao global.

Kenaikan ini dipicu oleh harga kakao yang sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada 2024, setelah tanaman kakao di Afrika Barat yang menyumbang sekitar 80% produksi kakao dunia terdampak kekeringan parah akibat perubahan iklim. Meski harga kakao kini telah turun signifikan, levelnya masih jauh lebih tinggi dibandingkan lima tahun lalu, dan para ahli memperkirakan volatilitas pasar akan terus berlanjut.

Di tengah kondisi tersebut, startup teknologi pangan asal Singapura, Prefer, mencoba meringankan beban konsumen dengan mengembangkan bubuk “kakao tanpa kakao”. Produk bernama PreferChoc ini dibuat tanpa biji kakao, melainkan melalui proses fermentasi dan pemanggangan biji-bijian serta benih tertentu.

“Secara sederhana, kami mampu menciptakan rasa dan bahan kakao tanpa menggunakan biji kakao,” ujar Jake Berber, salah satu pendiri Prefer yang berdiri pada 2022.

PreferChoc dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari minuman cokelat, kue, hingga produk konfeksioneri. Berber berharap inovasi ini, termasuk produk kopi tanpa biji kopi yang juga dikembangkan Prefer, dapat membantu konsumen tetap menikmati produk yang kini terancam perubahan iklim.

Prefer menargetkan pasar utama berupa produsen cokelat besar, dengan konsep produk hibrida yang mencampurkan PreferChoc dan bubuk kakao konvensional. Menurut Berber, pada tingkat campuran 30–50%, rasa cokelat tidak mengalami perubahan berarti, sementara biaya produksi dapat ditekan.

PreferChoc direncanakan meluncur secara komersial pada 2026. Sebelumnya, produk kopi alternatif Prefer telah dipasarkan pada 2025 dan tersedia di Singapura, Vietnam, serta Filipina. Berber mengklaim pendekatan ini mampu menurunkan biaya kopi hingga 50%, dan potensi penghematan serupa dapat diterapkan pada industri cokelat.

Selain aspek harga, PreferChoc juga diklaim lebih ramah lingkungan. Produksi cokelat hitam dan kopi diketahui memiliki jejak karbon besar. Analisis daur hidup independen terhadap kopi Prefer menunjukkan emisi karbonnya hampir sembilan kali lebih rendah dibandingkan kopi tradisional, dan Berber memperkirakan hasil serupa untuk produk cokelatnya.

Produksi kakao juga kerap dikaitkan dengan deforestasi. Penelitian menunjukkan bahwa di Pantai Gading dan Ghana dua produsen kakao terbesar dunia budidaya kakao menyumbang lebih dari 37% dan 13% kehilangan hutan di kawasan lindung.

Managing Director Asia Pasifik Good Food Institute (GFI), Mirte Gosker, menilai produksi bahan kakao melalui fermentasi berpotensi mengurangi dampak lingkungan. Menurutnya, sektor pangan berbasis fermentasi menawarkan peluang besar untuk menghasilkan lebih banyak makanan dengan sumber daya alam yang lebih sedikit.

Berber menegaskan bahwa Prefer tidak berniat menggantikan industri cokelat sepenuhnya, melainkan bekerja sama. “Konsumen bukan mencari alternatif cokelat, mereka mengeluhkan cokelat yang semakin mahal. Solusinya adalah produk hibrida yang rasanya sama, tetapi harganya lebih terjangkau,” ujarnya.