JAKARTA, Cobisnis.com - Persoalan penggunaan petasan dalam acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, berlanjut ke proses hukum. Amanda Andono (50), salah satu warga yang memprotes kejadian tersebut, menyatakan akan membuat laporan kepada polisi.
Sebelumnya, Amanda bersama dua warga lainnya telah mengikuti pertemuan mediasi dengan pihak penyelenggara acara. Mediasi itu digelar pada Minggu (4/10/2026) dengan difasilitasi pihak kelurahan dan kepolisian.
Pihak penyelenggara dalam pertemuan tersebut telah menyampaikan permintaan maaf. Namun, Amanda menganggap penjelasan yang diberikan belum menyelesaikan persoalan yang dipermasalahkannya.
“Mereka ya mereka cuma bilang ‘Ya maaf, kami salah, mungkin nanti kami enggak akan pasang kembang api lagi. Kembang api dialokasikan ke yang lain yang lebih berguna, terus kami minta maaf karena perlakuan,’ cuma kayak gitu aja dan permintaan maafnya itu saya melihat tidak tulus,” tutur Amanda, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (5/10/2026).
Amanda kemudian memilih menempuh mekanisme hukum. Dua warga lainnya juga disebut akan membuat laporan masing-masing terkait kejadian tersebut.
Rencananya, Amanda mendatangi Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin malam untuk melaporkan kejadian yang dialaminya.
“Oh, enggak. Kami enggak terima (maafnya). Kami bertiga mau lapor polisi. Saya sore atau enggak malam ini,” kata dia.
Sebelum berencana melapor ke Polres, Amanda mengaku sudah mendatangi Polsek Kebayoran Lama. Namun, ia menyebut pelaporan di tingkat polsek tidak memiliki unit khusus Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Atas pertimbangan tersebut, Amanda kemudian mengarahkan laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan yang memiliki unit PPA.
Suara Petasan Disebut Membuat Anak Kejang
Keputusan Amanda melaporkan kejadian tersebut berkaitan dengan dampak yang dirasakan keluarganya. Ia mengatakan suara ledakan kembang api dari lokasi Maulid Nabi terdengar hingga ke rumahnya.
Menurut Amanda, suara keras tersebut membuat anaknya yang berusia 12 tahun terkejut dan kemudian mengalami kejang. Ia menyebut anaknya merupakan penyandang disabilitas dan memiliki sensitivitas pada saraf.
“Itu sampai bikin anak saya kaget dan dia sampai kejang. Saya tunggu, semenit, dua menit, tiga menit, lima menit, 10 menit, itu enggak berhenti-henti. Suaranya itu enggak kayak petasan biasa,” kata dia.