JAKARTA, Cobisnis.com – Joko Mulyono tidak pernah membayangkan harus menghadapi tagihan medis yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Namun, keputusan yang diambil beberapa tahun sebelumnya menjadi penyelamat saat risiko kesehatan datang menghampiri.
Sebagai pekerja kantoran, Joko menjalani kehidupan seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya dengan bekerja dan menabung untuk masa depan keluarga. Hingga suatu hari, ia memutuskan memiliki proteksi kesehatan syariah setelah mendapat penawaran dari seorang teman yang berprofesi sebagai tenaga pemasar.
Risiko kesehatan pertama muncul ketika Joko mengalami gangguan pada bagian punggung yang tidak kunjung membaik. Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, dokter memutuskan ia harus menjalani operasi dan rawat inap dengan biaya hampir Rp50 juta.
Beberapa waktu kemudian, Joko kembali menghadapi masalah kesehatan setelah ditemukan kelainan pada ususnya. Ia harus menjalani prosedur kolonoskopi dengan biaya pengobatan yang mencapai sekitar Rp78 juta.
Empat tahun berselang, ujian kesehatan kembali datang saat Joko mengalami masalah pada pembuluh darah. Kondisi tersebut mengharuskannya menjalani tindakan Endovenous Laser Ablation (EVLA) dengan biaya sekitar Rp102 juta.
Tiga kali menjalani tindakan medis membuat total tagihan kesehatan yang dihadapi Joko menembus lebih dari Rp200 juta. Meski demikian, ia mengaku tidak perlu mengeluarkan biaya pribadi karena seluruh proses pengobatan ditanggung sesuai manfaat perlindungan yang dimiliki.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandang Joko terhadap pentingnya perlindungan kesehatan berbasis syariah. Menurutnya, prinsip tolong-menolong atau ta’awun yang diterapkan dalam asuransi syariah memberikan manfaat nyata bagi peserta yang sedang menghadapi musibah.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama, mengatakan pengalaman peserta seperti Joko memperkuat komitmen perusahaan dalam menghadirkan perlindungan yang relevan bagi masyarakat. Hingga 2025, Prudential Syariah telah membayarkan santunan sebesar Rp8,5 triliun kepada lebih dari 325 ribu peserta sebagai bentuk dukungan saat keluarga Indonesia menghadapi berbagai risiko kehidupan.