JAKARTA, Cobisnis.com – Perlindungan dari sinar matahari kini ikut membentuk tren fashion musim panas di Amerika Serikat. Frances Ling, 29 tahun, memiliki pakaian khusus saat berkendara di Los Angeles. Ia mengenakan sejumlah perlengkapan untuk menutup kulit dari paparan sinar matahari.
Pertama, Ling memakai cape berlengan panjang dengan tudung. Kekasihnya bahkan bercanda bahwa pakaian tersebut membuatnya terlihat seperti seorang superhero.
Setelah itu, ia mengenakan masker ringan yang menutupi hampir seluruh bagian wajah di bawah hidung. Ia kemudian memakai sarung tangan dengan lengan panjang hingga melewati siku. Ling mengatakan dirinya kini lebih memperhatikan perlindungan kulit. Namun, ia mengaku tidak menyukai penggunaan tabir surya.
Karena itu, Ling memilih pakaian pelindung matahari yang ia beli dari China. Pilihan tersebut mencerminkan tren konsumen Amerika yang mulai mengandalkan pakaian dengan perlindungan UV.
Pakaian tersebut menggunakan standar Ultraviolet Protection Factor (UPF). Standar ini menunjukkan kemampuan kain dalam membantu melindungi kulit dari paparan radiasi ultraviolet.
Sementara itu, pasar pakaian UPF terus berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap perlindungan kulit. Konsumen juga semakin mengaitkan perawatan kulit dengan konsep kesehatan dan umur panjang.
Selain itu, pengaruh tren skincare dari Asia turut mendorong minat terhadap produk perlindungan matahari. China dan kawasan Asia lainnya telah lama mengembangkan berbagai produk untuk menghadapi paparan sinar UV.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup ikut memperkuat tren tersebut. Musim panas yang semakin panas membuat perlindungan dari sinar matahari menjadi bagian dari rutinitas harian.
Kini, pakaian pelindung matahari tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan aktivitas luar ruangan. Produk tersebut juga mulai masuk ke dalam tren fashion dan gaya hidup modern.