Trump Ancam Iran dengan Serangan Infrastruktur, Pembangkit Listrik Jadi Sasaran

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 03 Apr 2026, 21:19 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran di tengah eskalasi konflik yang semakin tajam. Pernyataan ini mempertegas arah agresif kebijakan militer AS terhadap Teheran.

Ancaman tersebut disampaikan Trump setelah serangan udara yang menghantam infrastruktur di sekitar Teheran. Serangan itu dilaporkan menewaskan delapan orang dan melukai puluhan lainnya.

Trump menegaskan bahwa Iran harus segera mengambil langkah untuk meredakan situasi. Ia menyebut kepemimpinan Iran mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menghentikan tekanan dari AS.

Dalam pernyataannya, Trump juga menekankan bahwa operasi militer AS belum mencapai puncaknya. Ia bahkan menyebut AS belum sepenuhnya mengerahkan kekuatan yang dimiliki.

Ancaman untuk menghancurkan pembangkit listrik menandai pergeseran target dari militer ke infrastruktur vital. Langkah ini berpotensi berdampak luas terhadap kehidupan sipil dan stabilitas ekonomi Iran.

Di sisi lain, Iran merespons dengan nada keras melalui pernyataan pejabatnya. Pemerintah Iran mempertanyakan apakah AS benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari eskalasi yang terus meningkat.

Ketegangan ini juga berdampak langsung pada sektor energi global. Iran sebelumnya telah membatasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.

Penutupan jalur tersebut mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak global. Dampaknya mulai terasa melalui kenaikan harga energi di pasar internasional.

Selain itu, laporan mengenai jatuhnya jet tempur F-35 milik AS turut memperkeruh situasi. Insiden ini menambah ketidakpastian dalam konflik yang terus berkembang.

Ketegangan yang meningkat membuat risiko konflik terbuka semakin besar. Dunia kini memantau langkah berikutnya dari kedua negara yang berpotensi memicu krisis lebih luas.

Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Konflik yang meluas dapat berdampak pada ekonomi global, terutama sektor energi.