JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington siap membantu Rusia setelah seorang pekerja laboratorium di institut penelitian penyakit pes di Siberia meninggal dunia.
Pekerja di Institut Penelitian Antipes Irkutsk tersebut jatuh sakit dan kemudian meninggal dalam kondisi yang belum sepenuhnya diketahui, sehingga memicu karantina terhadap sejumlah orang yang diduga melakukan kontak dengan korban.
“Yah, saya tidak suka melihat mereka mengalaminya,” kata Trump, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (6/10/2026).
Trump menyebut penyakit tersebut sebagai persoalan serius bagi Rusia dan menegaskan Amerika Serikat siap memberikan bantuan jika diperlukan.
“Ini penyakit yang berat,” imbuhnya.
“Kami akan membantu,” ujar Trump.
“Siapa pun yang mengalami masalah seperti itu, kami selalu bersedia membantu,” sambungnya.
Kematian pekerja laboratorium tersebut sebelumnya memicu kekhawatiran di media sosial mengenai kemungkinan penyebaran penyakit pes dari fasilitas penelitian di Siberia.
Namun, otoritas Rusia menyatakan situasi berada dalam kendali dan tidak menemukan bukti adanya kecelakaan yang melibatkan patogen di institut tersebut. Pemerintah Rusia juga menyebut korban meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
Sekitar 200 orang yang diduga melakukan kontak dengan korban telah menjalani karantina atau pemantauan medis, sementara tidak ditemukan kasus baru di antara pekerja institut antipes tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai berdasarkan informasi yang tersedia, risiko kesehatan masyarakat bagi populasi umum saat ini tergolong rendah, sembari menyatakan penilaian dapat diperbarui apabila informasi baru tersedia.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington terus memantau perkembangan kasus tersebut dan menilai situasi belum menjadi alasan untuk panik.
Trump juga diketahui menyatakan dirinya masih melihat Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai sosok yang dapat diajak bekerja sama, meski hubungan Washington dan Moskow tetap berada dalam ketegangan akibat perang Rusia-Ukraina.