Jamkrindo

10 Ribu Perusahaan Jepang Tumbang Dampak Krisis Tenaga Kerja

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 14 Jan 2026, 12:51 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Jumlah kebangkrutan perusahaan di Jepang kembali menembus angka 10.000 kasus sepanjang 2025. Ini menjadi tahun kedua berturut-turut angka kebangkrutan berada di level tersebut.

Survei Tokyo Shoko Research mencatat sebanyak 10.300 perusahaan bangkrut dengan utang minimal 10 juta yen. Angka ini naik 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 2013.

Lonjakan kebangkrutan terjadi di tengah krisis tenaga kerja dan kenaikan harga yang terus menekan dunia usaha. Dampaknya paling terasa bagi perusahaan kecil dan menengah yang memiliki ruang bertahan terbatas.

Data menunjukkan perusahaan skala kecil mendominasi kebangkrutan dengan porsi 76,6 persen dari total kasus. Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya sektor UMKM di tengah tekanan struktural ekonomi Jepang.

Total kewajiban utang perusahaan yang bangkrut tercatat sebesar 1,59 triliun yen. Nilai ini justru turun 32,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya karena minimnya kebangkrutan berskala besar.

Berdasarkan sektor usaha, industri jasa menjadi penyumbang kebangkrutan tertinggi. Termasuk di dalamnya sektor restoran yang mencatat 3.478 kasus atau naik 4,5 persen.

Sektor konstruksi berada di posisi berikutnya dengan 2.014 kasus, meningkat 4,7 persen. Sementara sektor manufaktur mencatat 1.186 kasus kebangkrutan atau naik 3,9 persen.

Survei juga menunjukkan kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja melonjak tajam. Jumlahnya naik 36,0 persen menjadi 397 kasus, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

Selain itu, kebangkrutan yang dipicu kenaikan harga meningkat 9,3 persen dengan total 767 kasus. Lonjakan biaya bahan baku dan operasional dinilai semakin menekan arus kas perusahaan.

Tokyo Shoko Research memprediksi tren kebangkrutan masih berlanjut pada 2026, meski dengan kenaikan moderat. Faktor yang diwaspadai meliputi kenaikan suku bunga, dampak tarif Amerika Serikat, serta memburuknya hubungan Jepang dan China.

Kondisi ini menambah tantangan ekonomi Jepang yang tengah menghadapi penuaan penduduk dan penurunan angkatan kerja. Krisis tenaga kerja kini menjadi isu struktural yang berdampak langsung pada stabilitas dunia usaha.