.389 Pekerja Kena PHK hingga April 2026, Ini Empat Solusi yang Diusulkan Ekonom

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 06 May 2026, 09:55 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Gelombang PHK di sektor manufaktur mulai mengkhawatirkan. Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menilai tekanannya bukan sektoral, melainkan struktural dan saling berkaitan.

"Kita tidak sedang melihat kasus per kasus, tapi satu rangkaian tekanan yang saling terhubung di sektor riil dan industri manufaktur," ujar Yusuf, Selasa (5/5/2026).

Ia sebut tiga faktor utama penyebabnya, biaya energi tinggi, bahan baku tidak kompetitif, dan derasnya impor murah. Permintaan domestik yang lemah bikin industri tidak punya bantalan saat tekanan datang.

Data Kemnaker mencatat sekitar 8.389 pekerja sudah terdampak PHK hingga April 2026. Angka ini berpotensi terus naik tanpa intervensi kebijakan yang nyata.

Yusuf merekomendasikan empat langkah. Pertama, kendalikan arus impor agar industri padat karya punya ruang untuk bersaing.

Kedua, tekan biaya produksi, khususnya energi dan suku bunga, yang selama ini jadi komponen utama pembentuk margin usaha.

Ketiga, perkuat daya beli masyarakat agar permintaan domestik bisa jadi penopang industri. Tanpa konsumsi yang kuat, produksi tidak punya tujuan.

Keempat, percepat transisi tenaga kerja. Pekerja terdampak PHK harus bisa terserap ke sektor lain yang masih tumbuh.

Banyak perusahaan sudah mulai efisiensi dengan tahan rekrutmen dan pangkas jam kerja sebelum ambil keputusan PHK. Yusuf ingatkan ini sinyal awal yang tidak bisa diabaikan.

"Ketika satu pabrik berhenti beroperasi, itu bukan kejutan, melainkan konsekuensi dari kondisi yang sudah terbentuk," pungkasnya.