JAKARTA, Cobisnis.com - Setiap 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kesadaran mengenai Alzheimer dan demensia, termasuk mengenali gejala serta mendapatkan pemeriksaan lebih awal.
Tema World Alzheimer's Month 2026 membawa pesan, "The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters." Pesan tersebut menekankan pentingnya mengetahui kondisi sedini mungkin agar penanganan dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Indonesia kini memasuki fase ageing population dengan jumlah penduduk lanjut usia yang terus bertambah. Kondisi ini membuat perhatian terhadap penyakit yang berkaitan dengan usia, termasuk Alzheimer dan demensia, semakin penting.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan jumlah kasus demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya populasi lansia. Pada 2025, jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta atau 11,9% dari total populasi.
Estimasi tersebut menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025. Alzheimer disebut menjadi bentuk dominan dengan kontribusi lebih dari 60% dari total kasus demensia nasional.
Angka tersebut merupakan estimasi kasus demensia dan bukan jumlah pasti orang yang telah mendapatkan diagnosis Alzheimer. Kementerian Kesehatan sebelumnya mencatat sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada 2016 dan memproyeksikan jumlahnya mencapai 2 juta pada 2030 serta 4 juta pada 2050.
Data awal program Cek Kesehatan Gratis juga menunjukkan adanya persoalan fungsi kognitif pada kelompok lansia. Publikasi Infarkes Edisi I 2025 mencatat 32,36% lansia mengalami gangguan kognitif.
Gangguan kognitif tidak berarti seseorang otomatis mengalami Alzheimer. Kondisi tersebut memiliki cakupan lebih luas dan dapat dipengaruhi berbagai faktor, sehingga diagnosis Alzheimer tetap membutuhkan pemeriksaan serta penilaian medis.
Alzheimer sendiri merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan demensia dan menjadi bentuk paling umum. WHO memperkirakan Alzheimer menyumbang sekitar 60% hingga 70% dari seluruh kasus demensia di dunia.
Alzheimer berkaitan dengan kerusakan sel saraf otak secara bertahap. Perubahan tersebut antara lain melibatkan penumpukan protein beta amiloid dan tau yang dapat mengganggu komunikasi antarsel saraf.
Salah satu bagian otak yang terdampak sejak awal adalah hipokampus, yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan ingatan. Karena itu, gangguan daya ingat kerap menjadi salah satu tanda awal yang terlihat.
Seiring perkembangan penyakit, seseorang dapat mengalami kesulitan berpikir, memecahkan masalah, berbahasa, mengambil keputusan, hingga menjalankan aktivitas sehari hari. Dampaknya juga dapat dirasakan keluarga dan caregiver yang mendampingi pasien.
Secara global, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021. WHO memperkirakan hampir 10 juta kasus baru demensia terjadi setiap tahun, sementara demensia bukan bagian normal dari proses penuaan.
Alzheimer hingga kini belum dapat disembuhkan. Pengobatan dan terapi yang tersedia ditujukan untuk membantu mengendalikan gejala, memperlambat perkembangan penyakit pada kondisi tertentu, serta mempertahankan kualitas hidup pasien.
Peringatan Hari Alzheimer Sedunia menjadi momentum untuk memahami bahwa perubahan fungsi kognitif tidak selalu dapat dianggap sebagai bagian biasa dari bertambahnya usia. Mengenali tanda dan mendapatkan pemeriksaan lebih awal dapat membantu menentukan langkah penanganan yang sesuai.