Amerika Serikat Berpotensi Serang Iran, Teheran Perkuat Fasilitas Nuklir dan Militer

Oleh Zahra Zahwa pada 22 Feb 2026, 10:11 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat di tengah penumpukan kekuatan militer Washington di Timur Tengah dan sinyal kesiapan perang dari Teheran. Meski perundingan tidak langsung di Jenewa telah berlangsung selama tiga setengah jam, belum ada terobosan berarti. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kedua pihak menyepakati “prinsip panduan”, sementara Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan Iran belum mengakui “garis merah” Presiden Donald Trump.

Di tengah ancaman konflik, Iran dalam beberapa bulan terakhir memperbaiki fasilitas rudal yang rusak akibat serangan Israel tahun lalu. Analisis citra satelit menunjukkan pembangunan kembali sejumlah struktur di Pangkalan Rudal Imam Ali di Khorramabad, perbaikan landasan dan jalur taksi di Pangkalan Udara Tabriz serta Hamadan, hingga pemulihan terowongan dan area pendukung yang sebelumnya dibombardir. Iran juga mempercepat pemulihan fasilitas produksi rudal berbahan bakar padat di Shahrud, yang memungkinkan peluncuran rudal jarak jauh secara lebih cepat.

Selain sektor militer, Teheran juga memperkuat perlindungan fasilitas nuklirnya. Citra satelit terbaru memperlihatkan penggunaan beton dan timbunan tanah besar-besaran untuk memperkeras kompleks bawah tanah di Natanz. Di fasilitas Taleghan 2 di kompleks militer Parchin, Iran membangun struktur beton pelindung tambahan yang berpotensi menjadikannya bunker tahan serangan udara. Langkah ini dinilai sebagai antisipasi terhadap kemungkinan serangan udara AS maupun Israel.

Pemerintah Iran juga merombak struktur keamanan nasionalnya. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei memperkuat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan membentuk Dewan Pertahanan untuk mengelola situasi perang. Veteran Garda Revolusi Iran ditunjuk memimpin struktur baru tersebut guna memperkuat kesiapan menghadapi ancaman, termasuk skenario terburuk berupa serangan yang menargetkan kepemimpinan tertinggi negara.

Di sisi lain, Iran mengintensifkan latihan militer sebagai pesan strategis. Latihan laut digelar di Teluk Persia dan Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap hari. Iran bahkan sempat menutup sebagian jalur tersebut saat latihan berlangsung. Teheran juga menggelar latihan gabungan dengan Rusia di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara.

Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan dua kapal induk ke kawasan tersebut. Insiden juga terjadi ketika drone Iran ditembak jatuh setelah mendekati kapal induk AS di Laut Arab. Ketegangan ini menambah kekhawatiran pasar energi global terhadap potensi gangguan pasokan minyak.

Analis menilai Iran berusaha mengirim pesan bahwa perang akan membawa konsekuensi besar bagi Washington. Dengan perbaikan fasilitas militer, penguatan bunker nuklir, restrukturisasi keamanan, serta demonstrasi kekuatan di laut, Teheran tampak ingin menunjukkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan biaya tinggi. Situasi ini menempatkan Timur Tengah dalam fase ketidakpastian baru dengan risiko eskalasi yang dapat berdampak luas pada geopolitik dan ekonomi global.