JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali memanas setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap pasukan AS di Caracas. Peristiwa ini langsung memicu sorotan global, termasuk dari pemerintah Indonesia.
Hubungan AS dan Venezuela memang telah lama diwarnai konflik politik dan ekonomi. Ketegangan meningkat sejak era Hugo Chavez pada 1999, dengan AS menuding pemerintah Venezuela terlibat berbagai pelanggaran serius.
Presiden AS Donald Trump kembali menekan Maduro untuk menyerahkan kekuasaan. Trump juga menuding Maduro memiliki keterkaitan dengan kartel narkoba yang disebut bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai aksi AS terhadap Venezuela menimbulkan keprihatinan serius. Ia menyoroti lemahnya sistem pengawasan internasional dalam menjaga kedaulatan negara.
Menurut Purbaya, kondisi ini mencerminkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa yang semakin tidak efektif. Negara besar dinilai masih dapat melakukan intervensi militer tanpa konsekuensi yang tegas.
Dari sisi dampak ke Indonesia, Purbaya menilai pengaruh konflik ini relatif terbatas. Jarak geografis yang jauh serta peran Venezuela yang kecil dalam suplai minyak global menjadi faktor utama.
Ia menegaskan konflik tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pasokan minyak dunia. Namun demikian, Indonesia tetap perlu menjaga ketahanan ekonomi di tengah dinamika global.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi. Fokus utama pemerintah adalah pergerakan harga minyak dunia.
Airlangga menyebut harga minyak global masih berada di kisaran 63 dollar AS per barel pasca konflik. Dalam satu hingga dua hari terakhir, belum terlihat perubahan signifikan.
Pemerintah memilih bersikap waspada dengan terus memantau dinamika geopolitik global. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian internasional.