JAKARTA, Cobisnis.com – Ritel terbesar di Amerika Serikat tengah mengambil langkah agresif untuk menarik konsumen yang makin berhati-hati menjelang musim liburan. Tarif impor oleh Presiden Donald Trump, inflasi yang masih tinggi, dan meningkatnya angka pengangguran membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka.
Wells Fargo memperkirakan penjualan liburan tahun ini naik 3,5% hingga 4% dibanding tahun lalu. Namun angka itu belum memperhitungkan kenaikan harga, sehingga belanja riil diprediksi nyaris stagnan.
Menurut analis ritel Wells Fargo, Lauren Murphy, tahun ini para peritel kembali ke strategi dasar mengandalkan penawaran kuat, diskon besar, serta upaya menarik konsumen agar datang ke toko.
Macy’s mencoba menghidupkan kembali pengalaman belanja khas department store klasik. Old Navy memaksimalkan koleksi desain eksklusif dari Zac Posen. Sementara Walmart berfokus pada kecepatan, menjanjikan waktu pengiriman hanya 30 menit dari pesanan masuk hingga barang dimuat ke truk.
Meski harga naik, seluruh eksekutif perusahaan itu mengatakan bahwa mereka berupaya membantu konsumen memaksimalkan nilai belanja mereka.
Macy’s Kembalikan “Magis” Belanja Musim Liburan
Macy’s mencoba menghidupkan kembali kejayaan department store dengan pengalaman toko yang lebih meriah. Di flagship New York, enam kolaborasi baru dihadirkan, termasuk NBA Experience dan kerja sama eksklusif dengan Disney. Dekorasi bertema liburan, pasar indoor, DJ, hingga merek-merek baru turut melengkapi suasana.
Santa Claus dari Parade Thanksgiving Macy’s bahkan melakukan tur nasional untuk pertama kalinya, menjadi daya tarik tambahan.
Nata Dvir, Chief Merchandising Officer Macy’s, mengatakan konsumen kini lebih selektif, sehingga toko harus menawarkan kombinasi produk menarik, kualitas tinggi, dan pengalaman berbelanja yang berkesan.
Upaya revitalisasi ini merupakan bagian dari rencana bertahun-tahun untuk mengatasi penurunan penjualan. Macy’s telah menutup 150 toko berkinerja buruk dan memperkuat 350 toko lainnya. Strategi tersebut sempat menunjukkan hasil positif dengan pertumbuhan penjualan pertama dalam tiga tahun.
Namun tarif impor kini menjadi tantangan baru. Macy’s yang merencanakan stok setahun sebelumnya harus bekerja keras bersama vendor dari lebih dari 25 negara untuk menjaga harga tetap terjangkau. Beberapa kategori tetap akan mengalami kenaikan harga, terutama mainan dan sweater.
Untuk mengimbangi biaya impor, Macy’s meningkatkan kualitas bahan seperti cashmere agar pelanggan merasakan nilai sepadan dengan harga.
Old Navy Tawarkan Mode Bergaya Desainer dengan Harga Terjangkau
Old Navy memanfaatkan momen liburan sebagai “Super Bowl”-nya, dengan penjualan piyama keluarga sebagai bintang utama. Namun menghadapi konsumen yang terbebani biaya hidup, merek ini membutuhkan lebih dari sekadar piyama musiman.
Old Navy menghadirkan koleksi desainer pertamanya bersama Anna Sui dan gaya baru dari Zac Posen, desainer couture terkenal yang kini menjadi Chief Creative Officer Old Navy. Fitur desain seperti tali bahu pita hingga detail taffeta menjadi daya tarik baru.
Kinerja Old Navy kuat di kuartal ketiga, mencatat pertumbuhan pendapatan 5%. Namun tarif impor tetap menjadi tantangan. Karena itu Old Navy mengadopsi teknologi RFID untuk memudahkan pelacakan stok sehingga pelanggan tidak kecewa karena produk tidak ditemukan. CEO Horacio Barbeito menegaskan fokus Old Navy tetap pada kualitas dan nilai, terlepas dari ketidakpastian ekonomi.
Walmart Kejar Kecepatan Lewat Automasi Besar-besaran
Di Greencastle, Pennsylvania, sebuah pusat pemenuhan pesanan seluas 1,5 juta kaki persegi menjadi senjata Walmart untuk musim liburan ini. Mesin otomatis bertenaga AI membuat kotak khusus sesuai pesanan, menyortir barang, hingga menutup paket.
Fasilitas NexGen ini mampu memproses hingga 100.000 paket per hari. Walmart menyebut pesanan dapat berpindah dari sistem online ke truk pengiriman hanya dalam 30 menit. Kinerja Walmart juga kuat, dengan pertumbuhan pendapatan 5,8% dan lonjakan e-commerce 27%. Kenaikan harga membuat banyak konsumen menengah dan atas mulai berpindah ke Walmart demi menghemat biaya.
Meski harus bersaing dengan Amazon dan platform murah asal Tiongkok seperti Shein dan Temu, Walmart menegaskan strategi utamanya tetap harga rendah dan pengalaman pelanggan yang cepat.
Fasilitas otomatis ini dua kali lebih produktif dibanding gudang lama. Interaksi karyawan dengan paket berkurang drastis, mengurangi jarak jalan hingga 10 mil per hari. Dengan perpaduan kecepatan, teknologi, dan efisiensi biaya, Walmart berharap dapat mendominasi musim belanja akhir tahun.