JAKARTA, Cobisnis.com - Paylater atau buy now pay later kini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak. Sejumlah warga Jakarta mengaku memakainya untuk memenuhi gaya hidup ketika penghasilan tidak cukup.
Mega, warga Jakarta Selatan berusia 31 tahun, mengaku pernah menggunakan paylater karena ingin mengikuti gaya hidup. Tagihannya bahkan sempat mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan untuk membeli pakaian dan berbagai perlengkapan.
Seiring waktu, Mega menyadari kebiasaan tersebut bisa mengganggu kondisi keuangannya. Ia kemudian mulai mengurangi penggunaan paylater dan memilih menabung terlebih dahulu sebelum membeli barang yang diinginkan.
Pengalaman serupa dialami Tupe, 26 tahun. Ia awalnya menggunakan paylater karena ingin membeli barang ketika belum memiliki uang, tetapi kebiasaan tersebut kemudian membuatnya semakin sering berbelanja.
Tagihan Tupe bahkan pernah membengkak hingga Rp6 juta dan harus dicicil selama enam bulan. Setelah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik, ia berhasil melunasi tagihan dan kini tidak lagi menggunakan paylater untuk gaya hidup.
Sementara itu, Dwinda, 29 tahun, masih menggunakan paylater dengan tagihan sekitar Rp500.000 hingga Rp600.000 setiap bulan. Pembelian tersebut antara lain digunakan untuk pakaian, pulsa, kosmetik, hingga barang yang sebenarnya sudah dimiliki tetapi ingin diganti demi penampilan.
Fenomena tersebut sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,40 triliun pada Mei 2026, tumbuh 57,02 persen secara tahunan.
Mayoritas pembiayaan tersebut digunakan untuk konsumsi. Nilainya mencapai Rp12,26 triliun atau 93,01 persen dari total outstanding paylater, sedangkan pembiayaan untuk investasi dan modal kerja hanya mencapai 5,57 persen dan 1,43 persen.
Kenaikan penggunaan paylater juga perlu diperhatikan karena pembiayaan bermasalah ikut meningkat. Rasio non performing financing atau NPF gross BNPL mencapai 3,44 persen pada Mei 2026, naik dari 2,73 persen pada akhir 2025.
Data tersebut menunjukkan paylater semakin dekat dengan aktivitas konsumsi sehari hari. Kemudahan membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian bisa membantu arus kas, tetapi penggunaan untuk gaya hidup berisiko membuat pengeluaran terus menumpuk.
Ketika cicilan mulai mengambil porsi besar dari penghasilan, ruang untuk menabung dan memenuhi kebutuhan utama menjadi semakin sempit. Karena itu, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi penting sebelum menggunakan fasilitas paylater.