JAKARTA, Cobisnis.com – Banyak orang menghindari bawang dan jengkol karena menganggapnya dapat menyebabkan bau badan. Namun, dokter menjelaskan bahwa kondisi tersebut memang memiliki dasar ilmiah.
Dokter umum dr. Tirta Mandira Hudhi menjelaskan bahwa bawang termasuk tanaman dari kelompok allium. Selain itu, bawang mengandung senyawa alisin dan alil metil sulfit (AMS) yang dapat memengaruhi aroma tubuh.
Senyawa tersebut tidak selalu terurai sempurna di dalam tubuh. Karena itu, sebagian dapat masuk ke aliran darah dan ikut tersebar ke berbagai organ.
Setelah itu, tubuh membawa senyawa sulfur ke paru-paru melalui proses pertukaran gas. Sementara itu, sebagian lainnya menuju kelenjar keringat dan keluar melalui kulit.
Di sisi lain, bakteri di permukaan kulit ikut memecah senyawa tersebut. Proses ini menghasilkan aroma khas yang sering dikaitkan dengan bau bawang.
Efek bau ini dapat bertahan satu hingga dua hari. Namun, durasinya bergantung pada kondisi metabolisme dan kesehatan masing-masing individu.
Selain bawang, jengkol juga mengandung senyawa sulfur serupa. Karena itu, jengkol juga dapat memengaruhi aroma tubuh, terutama melalui urine.
Meski begitu, dampak jengkol lebih dominan terlihat pada sistem ekskresi. Urine bisa memiliki bau menyengat jika konsumsi dilakukan berlebihan.
Dengan demikian, bau badan setelah konsumsi bawang atau jengkol terjadi karena proses metabolisme alami tubuh. Selain itu, kondisi ini memiliki penjelasan medis dan bukan sekadar mitos.