Beda dengan 2018, Erupsi Anak Krakatau Saat Ini Dinilai Tak Picu Tsunami

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 06 Sep 2026, 12:54 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9) dipastikan tidak berpotensi memicu tsunami seperti yang terjadi pada 2018. Kondisi fisik gunung saat ini dinilai berbeda dengan sebelum tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, tsunami 2018 terutama dipicu oleh runtuhnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut dalam volume besar. Peristiwa tersebut bukan semata mata disebabkan oleh kolom erupsi.

Menurut Lana, sebagian besar tubuh Gunung Anak Krakatau telah runtuh pada 2018. Setelah itu, tubuh gunung kembali mengalami pertumbuhan dan perubahan bentuk akibat aktivitas erupsi berikutnya.

Hasil pemantauan terbaru menunjukkan bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utama relatif tidak mengalami perubahan signifikan. Pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk setelah 2018 juga dinilai masih terlalu kecil untuk mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil pemantauan BMKG di kawasan Selat Sunda. Hingga Minggu (6/9) pukul 07.00 WIB, sebanyak 20 tsunami gauge belum menunjukkan adanya anomali muka air laut.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan potensi tsunami akibat erupsi Anak Krakatau saat ini masih berada dalam kategori rendah. Pemantauan tetap dilakukan secara intensif untuk memastikan perubahan kondisi dapat segera terdeteksi.

BMKG juga mengaktifkan pemantauan menggunakan high frequency radar di Carita dan Tanjung Lesung. Sistem tersebut dapat mendeteksi perubahan kondisi laut dari jarak sekitar 150 kilometer dari garis pantai.

Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai instrumen, mulai dari satelit, tsunami gauge, radar gelombang, sensor geomagnetik, hingga sensor petir vulkanik. Seluruh data dianalisis secara terpadu untuk mendukung pengambilan keputusan dengan cepat.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung hingga Minggu pagi. Pada pukul 07.10 WIB, erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi 16 detik.

Abu vulkanik dari erupsi tersebut menyebar ke sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan, sebaran abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan yang mencakup sebagian Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta ke arah barat daya hingga barat laut menuju sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.

Meski potensi tsunami saat ini rendah, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan secara intensif. Perubahan aktivitas dan morfologi gunung tetap menjadi perhatian untuk mengantisipasi potensi bahaya yang dapat berkembang.