JAKARTA, Cobisnis.com – Anggapan bahwa terlalu banyak makan telur dapat menyebabkan bisulan masih sering dipercaya masyarakat Indonesia. Namun, dari sisi medis, anggapan tersebut merupakan mitos karena hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan telur menjadi penyebab munculnya bisul.
Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Adam Prabata menegaskan bahwa konsumsi telur tidak berkaitan dengan munculnya bisulan. Menurutnya, bisul terjadi akibat infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, yang menyerang folikel rambut atau kelenjar minyak pada kulit.
“Mitos! Makan telur gak bikin bisulan. Bisulan itu disebabkan oleh infeksi bakteri,” kata dr. Adam. Penjelasan tersebut juga sejalan dengan informasi dari berbagai sumber medis yang menyebut tidak ada hubungan langsung antara konsumsi telur dan bisul.
Bisul umumnya ditandai dengan benjolan merah yang terasa nyeri dan lama-kelamaan berisi nanah. Kondisi ini dapat muncul di area tubuh yang memiliki folikel rambut, seperti leher, ketiak, wajah, bokong, atau paha.
Meski demikian, sebagian orang bisa mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi telur. Reaksi tersebut dapat berupa gatal-gatal atau bentol pada kulit, tetapi kondisi itu berbeda dengan bisul yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Para ahli justru menilai telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung berbagai vitamin dan mineral penting bagi tubuh. Selama tidak memiliki alergi terhadap telur, makanan ini tetap aman dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Untuk mencegah bisul, menjaga kebersihan kulit menjadi langkah yang lebih penting dibanding menghindari telur. Risiko infeksi juga dapat dikurangi dengan mencuci tangan, merawat luka kecil, serta menghindari berbagi barang pribadi seperti handuk atau alat cukur.
Apabila bisul berukuran besar, sering kambuh, disertai demam, atau tidak kunjung sembuh, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Penanganan yang tepat diperlukan untuk mencegah infeksi semakin meluas dan menimbulkan komplikasi.