Benarkah Makanan Kesukaan Bisa Ungkap Ciri Psikopat? Ini Studinya

Oleh Hidayat Taufik pada 18 Aug 2026, 09:03 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Pilihan makanan seseorang ternyata pernah menjadi objek penelitian yang dikaitkan dengan karakter dan kepribadian. Salah satu temuan menunjukkan adanya hubungan antara kesukaan terhadap rasa pahit dan sejumlah sifat antisosial.

Penelitian yang dilakukan tim dari University of Innsbruck, Austria, melibatkan 935 responden. Para peserta diminta menilai kesukaan mereka terhadap berbagai rasa, mulai dari manis, asam, asin, hingga pahit.

Selain itu, para peserta mengikuti empat survei kepribadian. Survei tersebut digunakan untuk melihat sejumlah karakter, termasuk kecenderungan antisosial, narsisme, agresivitas, dan sadisme.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara semakin tingginya kenikmatan terhadap makanan pahit dengan kecenderungan perilaku sadis. Preferensi terhadap rasa pahit secara umum juga ditemukan berkaitan dengan sifat sadisme dalam kehidupan sehari-hari.

Makanan yang Dikaitkan dengan Ciri Psikopat

Penelitian lain yang dilakukan Sagioglou dan Greitemeyer juga menemukan adanya korelasi antara kesukaan terhadap rasa pahit dan kecenderungan memiliki sifat kejam.

Beberapa makanan dan minuman yang memiliki rasa pahit antara lain kopi, lobak, bir, air tonic, serta seledri. Dalam penelitian tersebut, rasa pahit disebut memiliki kaitan yang lebih kuat dengan sejumlah karakter antisosial dibandingkan rasa lainnya.

Peneliti juga membahas istilah supertasting, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap rasa pahit. Kondisi tersebut dikaitkan dengan tingkat respons emosional tertentu pada manusia dan juga ditemukan dalam penelitian terhadap tikus.

Sebaliknya, orang yang memiliki karakter lebih ramah dalam penelitian cenderung menyukai makanan bercita rasa manis, seperti permen dan cokelat.

Psikopat Bukan Diagnosis Mental

Istilah psikopat selama ini kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap kejam atau tidak memiliki empati. Namun, psikopat bukan merupakan diagnosis gangguan kesehatan mental yang berdiri sendiri.

Eric Patterson, konselor profesional berlisensi dari Cabot, Pennsylvania, menjelaskan bahwa terdapat banyak kesalahpahaman mengenai istilah psikopat. Istilah tersebut juga sering digunakan sebagai sebutan negatif terhadap seseorang.

Dalam bidang psikiatri, karakter yang sering disebut sebagai psikopati memiliki keterkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD).

Karena itu, seseorang tidak dapat disebut mengalami ASPD hanya berdasarkan makanan yang disukai. Penilaian mengenai gangguan kepribadian harus dilakukan berdasarkan pola perilaku dan kriteria klinis yang sesuai.

Berikut sejumlah karakteristik yang dikaitkan dengan ASPD, seperti dirangkum dari Psych Central:

1. Mengabaikan hak orang lain dan aturan sosial

Salah satu karakteristik yang menonjol pada ASPD adalah kecenderungan mengabaikan hak orang lain. Perilaku tersebut dapat berupa tindakan yang bertentangan dengan norma sosial maupun aturan hukum.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), ASPD ditandai dengan pola perilaku yang mengabaikan serta melanggar hak orang lain.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan karakter psikopatik dapat memahami sudut pandang orang lain, tetapi mengalami kesulitan dalam menggunakan kemampuan tersebut secara efektif. Hal ini dapat berkontribusi terhadap rendahnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

2. Sering berbohong dan memanipulasi

Orang dengan ASPD dapat menunjukkan kecenderungan berbohong atau menggunakan identitas berbeda. Kebohongan tersebut terkadang dilakukan untuk memperoleh keuntungan tertentu.

Manipulasi juga dapat dilakukan melalui daya tarik pribadi, pujian, tekanan emosional, hingga tindakan pemerasan.

3. Mudah agresif

Agresivitas tidak selalu diwujudkan melalui kekerasan fisik. Pada sebagian orang, perilaku tersebut dapat terlihat dalam bentuk mudah tersinggung, sikap kasar, maupun tindakan agresif secara verbal.

Namun, penting dipahami bahwa tidak semua orang dengan karakter psikopatik menunjukkan perilaku agresif secara fisik.

4. Bertindak impulsif

Karakter impulsif membuat seseorang cenderung mengambil keputusan tanpa memikirkan dampak yang mungkin muncul. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan tindakan berisiko.

Perilaku impulsif juga dapat berkaitan dengan risiko penyalahgunaan zat. Selain itu, tindakan seksual berisiko dapat meningkatkan kemungkinan terpapar infeksi menular seksual.

5. Tidak menunjukkan penyesalan

Orang dengan ASPD dapat menunjukkan minimnya rasa bersalah atau penyesalan setelah melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Mereka juga dapat berusaha memberikan alasan untuk membenarkan perilaku yang telah dilakukan atau mengecilkan dampak kerugian yang ditimbulkan.

Meski demikian, kesukaan terhadap makanan pahit tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan seseorang sebagai psikopat. Preferensi makanan merupakan salah satu aspek yang pernah diteliti dalam kaitannya dengan kepribadian, bukan alat diagnosis gangguan kepribadian.