JAKARTA, Cobisnis.com - Ribuan warga menghadiri upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Minggu, 5 Juli 2026. Dalam prosesi tersebut, sejumlah pelayat menyerukan balas dendam terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Laporan Al Jazeera menyebut jumlah pelayat yang hadir lebih banyak dibandingkan hari sebelumnya. Mereka mengenakan pakaian hitam sambil membawa bendera dan spanduk sebagai bentuk penghormatan kepada Ali Khamenei.
Di tengah prosesi pemakaman, beberapa pelayat menyampaikan seruan agar kematian Ali Khamenei dibalas. Seruan tersebut ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump.
Salah seorang pelayat bernama Gholamreza Sabooni mengaku datang untuk menyampaikan tuntutan balas dendam. Ia mengatakan kematian pemimpin mereka harus mendapat respons yang setimpal.
Pernyataan serupa juga disampaikan pelayat lain bernama Mohammad Reza Sharifi. Menurutnya, kebijakan luar negeri Iran tidak boleh membiarkan kematian pemimpinnya berlalu tanpa respons yang serius.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat memang telah lama berada dalam kondisi tegang. Ketegangan itu semakin meningkat sejak tewasnya Jenderal Qassem Soleimani pada 2020 dalam operasi militer yang diperintahkan Donald Trump.
Sejak saat itu, otoritas Amerika Serikat mengaku terus memantau berbagai ancaman dari Iran terhadap Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya. Isu keamanan tersebut masih menjadi perhatian hingga saat ini.
Prosesi pemakaman Ali Khamenei juga menjadi simbol besarnya dukungan dari para pendukungnya. Kehadiran massa dalam jumlah besar menunjukkan tingginya emosi publik setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat terkait seruan yang disampaikan sejumlah pelayat. Situasi keamanan di kawasan juga masih menjadi perhatian komunitas internasional.
Perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat diperkirakan masih akan menjadi sorotan dalam beberapa waktu ke depan. Ketegangan kedua negara dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.