Berpendidikan Tinggi tapi Takut ke Dokter, Fenomena Self-Diagnose Anak Muda Indonesia Lampaui Batas WHO

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 14 May 2026, 08:50 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kebiasaan mencari tahu penyakit sendiri lewat internet atau AI kini makin umum di kalangan anak muda urban Indonesia. Bahkan, banyak yang menjadikannya langkah pertama sebelum pergi ke dokter.

Health Collaborative Center (HCC) menemukan 59,8 persen dari 448 responden usia di bawah 39 tahun memilih swadiagnosis saat pertama kali mengalami keluhan kesehatan. Angka itu sudah masuk kategori perhatian kesehatan publik menurut standar WHO.

Ketua Peneliti HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan enam dari 10 anak muda urban tidak langsung memeriksakan diri ke dokter ketika sakit. Mereka lebih dulu mengandalkan hasil pencarian digital.

Mayoritas responden justru berasal dari kelompok berpendidikan tinggi dan memiliki akses informasi yang baik. Sebagian besar lulusan SMA hingga sarjana, bahkan 25 persen bergelar S2 ke atas.

Dari sisi ekonomi, 61 persen responden berpenghasilan setara atau sedikit di atas UMR, sementara 17 persen memiliki pendapatan lebih dari Rp10 juta per bulan. Menurut Ray, kelompok ini justru lebih rentan mengandalkan diagnosis digital.

Sebanyak 99,5 persen responden mengakses internet lewat ponsel setiap hari, dan 23 persen menghabiskan waktu online lebih dari enam jam per hari. Namun, 45 persen di antaranya memiliki literasi kesehatan digital yang rendah sehingga rawan salah memahami informasi medis.

Ray menegaskan AI tidak bisa menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter karena tidak mampu melakukan tahapan klinis seperti anamnesis dan pemeriksaan fisik. HCC pun mengingatkan bahwa teknologi hanya boleh dijadikan referensi awal, bukan penentu diagnosis akhir.