JAKARTA, Cobisnis.com – Polycystic Ovary Syndrome kini resmi berganti nama menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome. Perubahan nama ini bertujuan menggambarkan kondisi tersebut secara lebih akurat.
Namun, banyak orang selama ini mengira PCOS hanya berkaitan dengan kista di ovarium. Padahal, kondisi ini juga dapat menyebabkan haid tidak teratur, infertilitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
Menurut World Health Organization, sekitar 10 hingga 13 persen perempuan usia reproduktif mengalami kondisi ini. Selain itu, sekitar 70 persen kasus belum terdiagnosis. Helena Teede memimpin perubahan nama tersebut.
Ia menjelaskan bahwa PMOS lebih mencerminkan gangguan hormon dan metabolisme yang luas. Karena itu, nama baru ini diharapkan mengurangi kesalahpahaman dan stigma.
Istilah “polyendocrine” menunjukkan bahwa kondisi ini memengaruhi sistem hormon tubuh. Sementara itu, gangguan metabolik dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes.
Penelitian juga mengaitkan PMOS dengan depresi, kecemasan, sleep apnea, dan gangguan citra tubuh.