BFIN Bukukan Pembiayaan Baru Rp 21,9 Triliun di 2025

Oleh Iwan Supriyatna pada 06 Mar 2026, 11:00 WIB

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN).

JAKARTA, Cobisnis.com - Tahun 2025 adalah tahun dimana industri pembiayaan dihadapkan pada dinamika pasar yang dipengaruhi oleh perubahan perilaku daya beli dan konsumsi masyarakat, serta meningkatnya sensitivitas terhadap risiko di berbagai segmen. Kondisi yang mencerminkan situasi di masyarakat itu sendiri dan keputusan finansial mereka terhadap perkembangan ekonomi makro dalam negeri.

Merespons kondisi tersebut, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) sebagai Perusahaan yang berkaitan erat dengan perekonomian masyarakat, menerapkan langkah-langkah pengelolaan bisnis yang berfokus pada penguatan kualitas portofolio dan ketahanan operasional, disertai penyesuaian strategi pada setiap lini produk.

Dari upaya tersebut, Perusahaan mampu menjaga pertumbuhan total aset di tahun 2025 sebesar 1,4% dibandingkan nilainya di 2024, menjadi Rp25,5 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan piutang dikelola (managed receivables) sebesar 8,9% year-on-year (yoy) dengan capaian nilai Rp26,3 triliun.

Perusahaan juga konsisten untuk terus bertumbuh dengan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp21,9 triliun atau naik 9,3% dibandingkan periode sepanjang 2024 lalu.

“Kami dapat membuktikan resiliensi bisnis dengan permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang manageable. Tentunya ini semua berkat kemampuan dalam menerapkan prinsip agility yang diiringi dengan kerja keras seluruh tim, semangat berkolaborasi yang strategis, serta kepercayaan dari konsumen, investor, dan berbagai pemangku kepentingan terkait,” ujar Sutadi, Presiden Direktur BFI Finance ditulis Jumat (6/3/2026).

Melalui ragam layanan pembiayaan, BFI Finance konsisten mendukung aktivitas ekonomi pada berbagai segmen konsumen, mulai dari kebutuhan individu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga kebutuhan skala bisnis besar.

Hingga Desember 2025, komposisi piutang dikelola didominasi oleh pembiayaan produktif, yakni modal kerja sebesar 57,3% dan investasi sebesar 17,6%. Sementara, piutang pembiayaan yang disalurkan untuk tujuan multiguna tercatat memiliki porsi sebesar 22,0% dan pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,1%.

Untuk income statement, BFI Finance menorehkan total pendapatan senilai Rp6,7 triliun selama tahun 2025, atau meningkat sebesar 6,5% dibandingkan tahun 2024. Perusahaan juga mencatatkan kinerja yang stabil dengan profitabilitas tercatat sebesar 1,0% yoy, menjadi Rp1,581 triliun.

Terlepas dari upaya peningkatan performa, Perusahaan masih mampu mengelola risikonya dengan baik di bawah dua persen dimana Non-Performing Financing/NPF per 31 Desember 2025 di level bruto 1,39% dan neto 0,22%. Posisi ini lebih rendah dibandingkan NPF rata-rata industri yang berada di level bruto 2,51% dan neto 0,77% (Data OJK per Desember 2025).

“Melalui pengelolaan manajemen risiko yang cermat untuk menjaga kualitas aset, BFI Finance mampu mempertahankan stabilitas kinerja sekaligus mempertahankan posisi keuangan yang solid sebagai fondasi untuk pertumbuhan di masa depan,” tambah Sutadi.

Di bagian rasio penting keuangan lainnya, Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing tercatat sebesar 7,9% dan 14,8%. Sedangkan gearing ratio terpantau sebesar 1,3 kali.

Upaya mempertahankan kinerja tidak serta mengurangi komitmen untuk memberikan nilai tambah yang berkelanjutan kepada para pemegang saham. Di tahun 2025, Perusahaan telah menyelesaikan pembagian dividen dengan total nilai Rp902 miliar untuk tahun buku 2024, serta membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 pada 18 Desember lalu sebesar Rp35,00 per lembar saham atau setara Rp520 miliar.