Ketahanan Ekonomi RI Diuji Saat Konflik Timur Tengah Membuat Tekanan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 06 Mar 2026, 08:58 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali menempatkan ekonomi Indonesia dalam posisi siaga. Harga minyak dunia kini bergerak di atas asumsi Indonesia Crude Price (ICP) US$70 per barel dalam APBN 2026, sehingga berpotensi menekan fiskal, nilai tukar, hingga daya beli masyarakat.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menekankan ketidakpastian APBN akan bertambah jika perang berlangsung lama. Asumsi ICP yang tertinggal dari harga pasar global membuat ruang anggaran menjadi lebih sempit.

“Kalau melihat situasi yang ada, faktor ketidakpastian di APBN kita itu akan menjadi bertambah,” kata Misbakhun dalam Indonesia Economic Forum 2026, Jakarta, Senin (2/3).

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, menilai dampak geopolitik mulai terasa di Indonesia. Produksi dan perdagangan barang terganggu, sementara perilaku lembaga keuangan nonbank (LKNB) memengaruhi pasar saham, surat utang, dan nilai tukar.

Menurut Awalil, Indonesia berada dalam posisi kurang menguntungkan karena pasar keuangan domestik sudah bergejolak sebelum perang pecah. IHSG yang baru pulih kembali tertekan, yield SBN naik, dan rupiah kembali melemah.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara, melihat risiko besar pada ruang fiskal dan ketahanan energi. Stok BBM hanya cukup untuk 20 hari, sementara defisit fiskal hampir 3 persen. Lonjakan harga minyak akan menambah tekanan pada APBN.

Bhima menyoroti rapuhnya daya beli masyarakat. Pergeseran dari deposito ke giro menunjukkan deposan mencari keamanan saat kondisi ekonomi memburuk. Dari sisi pasar keuangan, rupiah diproyeksi melemah ke Rp17.500.

Ia menekankan pemerintah perlu menyesuaikan postur anggaran. Revisi APBN 2026 dan realokasi belanja untuk subsidi energi dianggap penting agar BUMN seperti PLN dan Pertamina tetap memiliki cashflow sehat.

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menambahkan bahwa kondisi domestik sudah kurang sehat sebelum konflik memanas. Pasar modal, rupiah, dan sektor keuangan menghadapi risiko meningkat.

Meski ekonomi Indonesia berbasis domestik cukup kuat, tekanan fiskal tetap tinggi. Strategi mitigasi risiko menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.