JAKARTA, Cobisnis.com – Menara Big Ben di London jadi salah satu ikon paling dikenal di dunia, tapi sedikit orang yang benar-benar paham alasan menara ini didirikan dan berapa biaya pembangunan yang dikeluarkan Inggris pada masa itu. Proyek ini sebenarnya lahir dari situasi krisis nasional setelah Gedung Parlemen mereka habis dilalap api.
Kebakaran besar tahun 1834 memaksa pemerintah Inggris membangun ulang kompleks parlemen, sekaligus menghadirkan menara jam baru yang bisa diandalkan. Dari situlah lahir rancangan Elizabeth Tower, struktur yang kini identik dengan Big Ben meski nama itu sebenarnya merujuk pada lonceng besarnya.
Pada masa itu, pemerintah ingin memperkuat citra stabilitas politik lewat infrastruktur yang presisi dan bertahan lama. Karena itu, menara jam dipilih sebagai simbol ketertiban publik, sekaligus alat praktis untuk memastikan standar waktu yang seragam bagi masyarakat.
Dalam catatan sejarah, biaya pembangunan menara dan mekanisme jamnya tercatat sekitar £25.000. Angka ini terdengar kecil untuk ukuran sekarang, tetapi pada abad ke-19 nominal tersebut sudah setara dengan investasi besar negara dalam proyek publik.
Jika disesuaikan dengan nilai ekonomi modern, biaya itu melonjak menjadi sekitar £3,5–4 juta, menunjukkan betapa seriusnya Inggris mengalokasikan anggaran demi menghadirkan menara jam paling akurat di era tersebut. Dalam rupiah sekarang, nilai itu setara Rp70–80 miliar.
Dari sisi sosial, keberadaan Big Ben sekaligus memperkuat keteraturan perkotaan. Pada masa ketika jam pribadi belum umum dimiliki warga, menara jam publik berperan penting dalam mengatur ritme kehidupan, mulai dari aktivitas kerja hingga jadwal transportasi.
Menara ini juga menjadi etalase keahlian teknik Inggris. Perancangnya menggunakan mekanisme pengatur waktu canggih yang membuat Big Ben menjadi salah satu jam paling presisi di dunia pada saat pertama kali dioperasikan pada 1859.
Seiring waktu, Big Ben berkembang menjadi simbol budaya. Perannya melampaui fungsi teknis dan berubah menjadi penanda identitas nasional yang terus muncul dalam acara kenegaraan, siaran radio, hingga momen Tahun Baru.
Secara ekonomi, Big Ben memberikan kontribusi tidak langsung melalui sektor pariwisata. Jutaan orang datang tiap tahun untuk melihat menara bersejarah ini, memperkuat industri perjalanan dan perhotelan di London.
Hingga hari ini, Big Ben tetap berdiri sebagai pengingat bahwa infrastruktur dapat berfungsi sebagai alat politik, sosial, dan kultural sekaligus. Dari proyek rekonstruksi pasca-kebakaran, menara ini kini menjadi warisan global yang nilainya jauh melampaui biaya pembangunannya.