JAKARTA, Cobisnis.com – China resmi memperketat ekspor barang-barang dwiguna ke Jepang, khususnya yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer. Kebijakan ini diberlakukan segera dan menandai eskalasi terbaru dalam hubungan kedua negara di tengah memanasnya isu Taiwan.
Kementerian Perdagangan China menyatakan seluruh barang dengan kegunaan ganda dilarang diekspor ke Jepang jika berkaitan dengan aktivitas militer. Larangan juga mencakup ekspor untuk pengguna akhir lain yang dinilai dapat meningkatkan kemampuan pertahanan Jepang.
Langkah tersebut muncul setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada tahun lalu yang menyinggung kemungkinan intervensi militer di Selat Taiwan. Beijing menilai pernyataan itu melanggar prinsip Satu China yang selama ini menjadi fondasi hubungan diplomatik kawasan.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China menyebut pernyataan pemimpin Jepang sebagai keliru dan berbahaya. Menurutnya, sikap tersebut dapat memicu konsekuensi serius terhadap stabilitas keamanan Asia Timur.
Di sisi lain, pemerintah Jepang masih bersikap hati-hati. Seorang pejabat di biro perdagangan dan keamanan ekonomi Kementerian Perdagangan Jepang menyatakan pihaknya tengah memantau perkembangan dan belum memberikan respons resmi.
Belum dapat dipastikan seberapa besar dampak ekonomi dari kebijakan ini. Namun, sejumlah analis menilai langkah China tidak semata bersifat simbolis, melainkan bagian dari strategi tekanan geopolitik jangka menengah.
China sebelumnya juga menggunakan kontrol ekspor sebagai instrumen kebijakan luar negeri, termasuk pembatasan logam tanah jarang. Kebijakan tersebut mulai diterapkan secara global sejak meningkatnya tensi perdagangan internasional beberapa tahun terakhir.
Logam tanah jarang memiliki peran penting dalam industri pertahanan dan teknologi tinggi, seperti jet tempur, drone, sistem rudal, ponsel pintar, hingga kendaraan listrik. Jepang sendiri sangat bergantung pada pasokan China untuk sektor ini.
Data Organisasi Jepang untuk Keamanan Logam dan Energi menunjukkan sekitar 70 persen impor logam tanah jarang Jepang pada 2024 berasal dari China. Ketergantungan ini membuat Tokyo berada dalam posisi rentan terhadap kebijakan ekspor Beijing.
Selain logam tanah jarang, daftar barang dwiguna yang diawasi China mencakup drone, material nuklir, komponen kedirgantaraan, dan paduan logam khusus. Seluruhnya memiliki nilai strategis tinggi bagi sektor industri dan pertahanan.
Ketegangan China dan Jepang juga terjadi di tengah dinamika geopolitik kawasan yang lebih luas. Dalam pekan yang sama, Presiden China Xi Jinping bertemu Presiden Korea Selatan dan menegaskan pentingnya memilih “sisi yang benar dalam sejarah”.
Langkah Beijing ini memperlihatkan semakin kaburnya batas antara kebijakan perdagangan dan kepentingan keamanan. Bagi kawasan Asia Timur, kontrol ekspor kini bukan sekadar isu ekonomi, tetapi juga instrumen politik dan diplomasi strategis.