JAKARTA, Cobisnis.com - Coach Justin membagikan pandangannya tentang cara menghadapi ketidakpastian hidup melalui pengalaman pribadinya. Ia menekankan bahwa mental, pola pikir, dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting untuk bertahan, terutama ketika masa depan tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam pengalamannya, Justinus Laksana menghabiskan masa remaja hingga dewasa awal di Belanda, dari usia 12 sampai 32 tahun. Ia mengaku terbiasa mengurus berbagai keperluan sendiri sejak sekolah, pengalaman yang menurutnya membantu membentuk kemandirian dan ketahanan mental.Justin kemudian menceritakan keputusannya datang ke Indonesia pada 1999 saat berusia 32 tahun. Ia membawa dua koper dan modal US$1.000, tanpa kepastian pekerjaan maupun gambaran jelas tentang bagaimana ia akan membangun masa depan di Tanah Air.
Meski mengaku belum mengetahui cara mencapai cita-citanya menjadi miliarder, Justin tetap menjalani prosesnya. Ia menyadari perjalanan hidup tidak selalu bisa diprediksi, termasuk peluang yang akhirnya membawanya menjadi komentator sepak bola di televisi selama 14 tahun dan aktif di YouTube.
“Artinya lu enggak bisa prediksi 5 tahun ke depan seperti apa,” ujar Justinus Laksana, dikutip dari kanal YouTube MALAKA, Selasa (13/10/2026).
Menurut Justin, terlalu terpaku pada target hidup dalam jangka waktu tertentu bisa membuat seseorang mengabaikan peluang yang tersedia saat ini. Ia menyarankan agar orang fokus memanfaatkan kesempatan yang ada, sambil membangun mental untuk menghadapi berbagai tantangan.
Pengalaman Justin di Indonesia juga dimulai dari pekerjaan yang tidak selalu sesuai dengan minatnya. Ia pernah berjualan kertas karena membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup, sekaligus mempelajari produk dan cara meyakinkan calon pelanggan.
Ia menilai kemampuan komunikasi menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan tersebut. Menurutnya, kemampuan meyakinkan orang lain dan memahami apa yang ditawarkan dapat membantu seseorang memperoleh pekerjaan serta mempertahankan penghasilan.
Justin juga menyoroti pentingnya berhenti mencari alasan atas kondisi hidup. Ia mengingatkan bahwa latar belakang keluarga, akses pendidikan, dan lingkungan bukan satu-satunya faktor yang menentukan perjalanan seseorang, meski ia menekankan pentingnya kemauan kuat untuk terus berusaha.
“Apapun dengan semua masalah yang ada di dunia ini selalu ada solusinya,” kata Justin dalam pesannya kepada generasi muda. Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak mudah menyerah dan terjebak dalam pola pikir sebagai korban keadaan.
Bagi Justin, kekayaan tidak semata-mata diukur dari jumlah uang yang dimiliki. Ia menilai kemampuan berkomunikasi, kekuatan mental, serta kontribusi positif kepada lingkungan juga menjadi modal penting untuk berkembang.
Ia menutup pesannya dengan menekankan bahwa mental tidak terbentuk secara instan melalui pendidikan atau latar belakang keluarga. Ketahanan tersebut perlu dibangun melalui proses, termasuk berani melakukan kesalahan dan belajar dari pengalaman.