JAKARTA, Cobisnis.com - Starbucks digugat hukum oleh pelanggannya terkait minuman protein "bebas gula", di mana konsumen mengklaim beberapa minuman tersebut mengandung gula hampir setara dengan permen.
Gugatan class-action yang diajukan pada 2 Oktober di pengadilan federal di negara bagian Washington ini menargetkan delapan minuman protein Starbucks, baik panas maupun dingin, termasuk Sugar-Free Vanilla Protein Latte, Sugar-Free Caramel Protein Latte, dan minuman protein matcha.
Menurut gugatan tersebut, minuman itu mengandung antara 13 dan 21 gram gula dalam satu porsi ukuran venti, dan dilaporkan berpendapat bahwa "tidak ada konsumen yang wajar" yang akan mengharapkan minuman yang disebut "bebas gula" mengandung jumlah gula sebanyak itu.
Gugatan tersebut diajukan oleh tiga konsumen yang membeli minuman tersebut di California, New York, dan Washington. Gugatan itu meminta pengadilan untuk menghentikan Starbucks menggunakan istilah "bebas gula" untuk mendeskripsikan produk yang mengandung gula.
Terakait gugatan tersebut Starbucks membantah tuduhan.
"Kami yakin klaim-klaim ini tidak berdasar."
"Starbucks secara konsisten dan jelas telah memberikan informasi tentang minuman proteinnya, pilihan bebas gula, pilihan kustomisasi, dan kandungan nutrisi melalui pengumuman produk, menu, materi pemasaran, Starbucks.com, dan aplikasi Starbucks, dan kami bermaksud untuk membela diri dengan gigih dalam hal ini," kata juru bicara Starbucks dikutip dari Fox News, Minggu (11/10/2026).
Perusahaan tersebut menyatakan bahwa gula dalam minuman tersebut berasal secara alami dari susu yang diperkaya protein, bukan dari gula tambahan, dan sirup tanpa gula digunakan sebagai penambah rasa.
Menanggapi hal tersebut, Nicolette Pace, ahli diet terdaftar dan pendidik diabetes bersertifikat yang berbasis di New York, mencatat bahwa laktosa dalam susu adalah gula alami dan tidak dihitung sebagai gula tambahan, tetapi "bebas gula" dan "tanpa tambahan gula" bukanlah hal yang sama.
Sementara, menurut Dr. Michael Aziz, seorang dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Lenox Hill di New York City mengatakan, "bebas gula" tidak selalu berarti suatu produk tidak mengandung gula sama sekali. Berdasarkan peraturan FDA, produk yang diberi label "bebas gula" umumnya harus mengandung kurang dari 0,5 gram gula per sajian.
Kemudian label "tanpa tambahan gula," artinya gula atau bahan yang mengandung gula tidak ditambahkan selama pemrosesan atau persiapan, meskipun suatu produk masih dapat mengandung gula alami, seperti yang dikatakan Starbucks pada minuman proteinnya. Gula alami masih dapat memengaruhi kadar glukosa darah, sehingga kandungan karbohidrat total penting untuk dipertimbangkan oleh penderita diabetes.
Para penggugat berpendapat bahwa mereka membayar lebih mahal untuk produk yang diiklankan sebagai bebas gula daripada yang seharusnya mereka bayarkan untuk alternatif yang sebanding, ungkap Danny Karon, seorang pengacara gugatan kelompok yang berbasis di Ohio yang tidak terlibat dalam kasus ini.
"Tantangannya adalah meyakinkan pengadilan dan kemudian juri bahwa konsumen mengandalkan pernyataan yang diduga menyesatkan dari Starbucks saat melakukan pembelian," kata Karon.
Selain minuman protein yang disebutkan dalam gugatan, Aziz dan Pace memperingatkan bahwa minuman spesial Starbucks lainnya dapat mengandung gula dalam jumlah yang signifikan, menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan informasi nutrisi, ukuran porsi, dan tambahan seperti krim kocok dan saus.
Mereka mengatakan bahwa Venti Java Chip Frappuccino dapat mengandung hampir 80 gram gula, atau sekitar 20 sendok teh. Mereka juga menunjuk pada Caramel Ribbon Crunch Frappuccino dan minuman musiman seperti Peppermint Mocha dan Pumpkin Spice Latte, yang, tergantung pada ukuran dan penyesuaiannya, dapat mengandung gula hampir sebanyak itu.
"Itu jumlah gula yang sangat banyak, padahal kita tahu bahwa satu botol soda mengandung 63 gram gula," ucap Aziz.
"Ukuran memang penting dalam hal ini di Starbucks," sambung Pace.
Asosiasi Jantung Amerika merekomendasikan untuk membatasi tambahan gula sekitar 6 sendok teh, atau 25 gram, per hari untuk sebagian besar wanita dan 9 sendok teh, atau 36 gram, untuk pria, catatnya.
Namun, ia menekankan bahwa rekomendasi tersebut berlaku untuk gula tambahan, bukan laktosa alami yang terdapat dalam susu. Bagi konsumen yang ingin mengurangi asupan mereka, ia menyarankan untuk memesan dengan sederhana dan memilih ukuran yang lebih kecil.
"Jika ingin menikmati sesuatu yang istimewa, mungkin cukup pesan latte atau cappuccino sederhana," terang Aziz.