JAKARTA, Cobisnis.com — Keputusan Colorado larang penangkapan yang hanya memakai hasil tes narkoba cepat kini menjadi perhatian nasional di United States. Aturan baru di Colorado itu muncul setelah banyak kasus hasil positif palsu memicu proses hukum terhadap warga yang sebenarnya tidak membawa narkotika.
Tes narkoba cepat atau colorimetric drug test selama ini dipakai aparat karena murah dan mudah digunakan di lapangan. Selain itu, alat tersebut hanya membutuhkan beberapa menit untuk menunjukkan reaksi warna terhadap zat tertentu.
Namun, banyak penelitian menunjukkan alat ini sering salah membaca bahan biasa sebagai narkotika. Peneliti dari University of Pennsylvania memperkirakan tingkat kesalahan tes dapat mencapai 15 hingga 38 persen.
Studi lain dari New York City Department of Investigation bahkan menemukan tingkat kesalahan sangat tinggi dalam lingkungan penjara. Karena itu, banyak ahli meminta perubahan kebijakan.
Beberapa bahan sehari-hari seperti gula, sabun, kopi, cokelat, hingga obat resep dapat memicu hasil serupa dengan zat terlarang. Bahkan, produsen tes juga menulis bahwa hasil lapangan wajib dikonfirmasi laboratorium resmi.
Kasus salah hasil sudah terjadi di banyak negara bagian. Di South Carolina, sisa kotoran burung di mobil mantan atlet kampus Shai Werts sempat terbaca sebagai kokain. Setelah diuji ulang di laboratorium, hasil itu dinyatakan keliru.
Kasus lain muncul di Illinois ketika abu kremasi anak kecil dalam guci sempat diduga sebagai ekstasi saat pemeriksaan kendaraan. Rekaman kamera polisi memperlihatkan keluarga korban langsung menolak hasil tes tersebut.
Perubahan hukum di Colorado dipicu oleh pengalaman Holly Bennett. Perempuan 65 tahun itu dituduh membawa kokain saat dirawat di rumah sakit, padahal bubuk dalam tasnya berasal dari obat resep yang hancur.
Bennett menjalani proses hukum selama 15 bulan sebelum laboratorium membuktikan tidak ada kokain dalam sampel tersebut. Ia bahkan harus membiayai ulang rumahnya demi menutup biaya hukum.