JAKARTA, Cobisnis.com - Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9) membuat sebaran abu terpantau hingga wilayah Banten, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan arah sebaran abu sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan arah angin. Tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, serta jumlah material yang dikeluarkan juga memengaruhi luas dan arah penyebaran.
Berdasarkan pemantauan gabungan, abu vulkanik terpantau menyebar ke Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu. Kondisi tersebut dapat berubah dalam waktu relatif singkat mengikuti perkembangan cuaca dan angin di atmosfer.
Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai sumber data. Informasi erupsi dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia, laporan VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari 9 oleh BMKG menjadi dasar pemantauan sebaran abu.
Dampak sebaran abu juga menjadi perhatian terhadap keselamatan penerbangan. Data mengenai waktu erupsi, tinggi kolom abu, warna, intensitas, dan arah pergerakan abu disampaikan melalui mekanisme Volcano Observatory Notice for Aviation atau VONA.
Informasi tersebut menjadi bahan bagi otoritas penerbangan dan lembaga meteorologi penerbangan dalam mengevaluasi kondisi jalur penerbangan. Potensi gangguan dapat meningkat apabila erupsi berlangsung lebih lama atau kolom erupsi semakin tinggi.
Arah abu juga dapat berubah ketika kondisi angin mengalami perubahan. Karena itu, wilayah yang terdampak tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu kejadian erupsi.
Selain penerbangan, paparan abu juga berpotensi berdampak pada kawasan permukiman. Masyarakat di wilayah yang terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti arahan keselamatan dari pemerintah.
Lana mengatakan keputusan terkait penutupan atau penyesuaian operasional penerbangan berada pada otoritas terkait. Evaluasi dilakukan berdasarkan kondisi abu aktual, prakiraan penyebaran, dan standar keselamatan penerbangan.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi karena arah dan jangkauan abu dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.