Waspada Bahaya Abu Vulkanik, Warga Disarankan Kenakan Masker

Oleh Hidayat Taufik pada 06 Sep 2026, 13:24 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memicu penyebaran abu vulkanik ke sejumlah daerah.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diminta lebih waspada terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu tersebut.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono meminta warga membatasi kegiatan di luar rumah selama abu vulkanik masih menyebar.

Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan alat pelindung yang sesuai.

"Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti tipe N95 atau KN95, sangat dianjurkan karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini," kata Daryono dikutip dari berbagai sumber, Minggu (6/9/2026).

Daryono menerangkan, abu vulkanik tidak sama dengan debu biasa. Material tersebut terbentuk dari pecahan batuan dan kaca silika dengan ukuran yang sangat kecil.

Partikel abu vulkanik yang berukuran kurang dari 2 milimeter dapat dengan mudah terbawa udara.

Kondisi ini membuatnya berpotensi masuk melewati saluran penyaringan alami pada hidung dan mencapai bagian dalam sistem pernapasan.

"Ukuran yang sangat halus ini memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru," ucapnya.

Risiko kesehatan juga berasal dari kandungan kimia yang terdapat pada abu vulkanik. Menurut Daryono, material tersebut dapat membawa senyawa asam, seperti asam sulfat dan asam klorida, serta berbagai mineral dan logam berat.

Apabila masuk ke tubuh atau menempel pada bagian tubuh yang memiliki kelembapan, kandungan tersebut dapat memicu reaksi yang menyebabkan iritasi.

"Dampaknya tidak hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit," ujarnya.

Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai keluhan kesehatan. Kondisi tersebut antara lain ISPA, batuk kering, sesak napas, dan iritasi pada mata.

Risiko gangguan pernapasan juga menjadi perhatian bagi penderita asma. Paparan abu vulkanik dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan pada kelompok tersebut.

Tidak hanya dalam waktu singkat, paparan abu vulkanik dalam jangka panjang juga memiliki risiko kesehatan. Silika bebas yang mengendap di dalam paru-paru dapat memicu terbentuknya jaringan parut permanen atau dikenal sebagai silikosis.

Jika terjadi secara terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru.

"Untuk meminimalkan risiko tersebut, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi saat terjadi sebaran abu," tutur dia.

Masyarakat di daerah yang terkena dampak pun dianjurkan tetap berada di dalam ruangan selama kondisi memungkinkan. Apabila harus keluar, gunakan masker N95 atau KN95 dan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan abu vulkanik.