JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran mulai berdampak pada perjalanan ibadah umrah. Sejumlah travel umrah di Balikpapan memilih menunda pemberangkatan demi faktor keamanan jemaah.
Keputusan itu diambil setelah adanya imbauan dari otoritas terkait agar perjalanan umrah ditunda hingga situasi kembali kondusif. Pelaku usaha travel mengaku tidak ingin mengambil risiko di tengah ketidakpastian kawasan Timur Tengah.
Owner salah satu travel haji dan umrah di Balikpapan, Ahmad Basir, menyatakan konflik militer di kawasan tersebut jelas berpengaruh terhadap perjalanan religi. Menurutnya, agresi atau perang di Timur Tengah selalu berdampak pada mobilitas jemaah.
Basir menyebut perusahaannya hampir setiap bulan memberangkatkan jemaah untuk umrah maupun haji. Namun saat ini tidak ada jadwal keberangkatan aktif menyusul kondisi yang belum stabil.
Ia mengatakan jemaah terakhir dari perusahaannya kembali ke Indonesia pada awal Februari 2026. Pemberangkatan berikutnya sebenarnya dijadwalkan pada Juli 2026, tetapi situasi masih terus dipantau.
Kekhawatiran muncul jika konflik berkepanjangan dan berdampak pada musim haji mendatang. Travel umrah mulai menghitung ulang risiko operasional, termasuk kemungkinan pembatalan massal.
Menurut informasi antar pelaku travel, terdapat jemaah dari biro lain yang tertahan di Jeddah atau masih menjalankan ibadah di Tanah Suci. Kendala terutama dialami jemaah yang menggunakan maskapai Timur Tengah.
Sebagian penerbangan transit dilaporkan mengalami penyesuaian jadwal. Hal ini membuat proses kepulangan jemaah menjadi lebih lama dan membutuhkan koordinasi tambahan.
Sementara itu, pengusaha travel lainnya di Balikpapan, Hendra Cristian, memastikan jemaah pra-Ramadan yang ia berangkatkan telah kembali dengan aman. Jemaah terakhir tiba di Indonesia pada 26 Februari 2026, sebelum konflik pecah.
Ia menyebut operasional bandara di Jeddah dan Madinah masih berjalan normal. Penerbangan langsung dari Arab Saudi ke Indonesia juga relatif lancar tanpa gangguan berarti.
Meski demikian, para pelaku usaha tetap memikirkan dampak administratif. Jemaah yang sudah membayar uang muka atau pelunasan tentu membutuhkan kepastian jadwal baru di tengah situasi yang belum menentu.
Pelaku travel menegaskan keamanan jemaah menjadi pertimbangan utama dibanding aspek bisnis. Mereka memilih mengikuti arahan pemerintah sambil berharap kondisi Timur Tengah segera membaik.