JAKARTA, Cobisnis.com – Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kian meluas ke sejumlah negara Arab. Serangan balasan Teheran menyasar pangkalan militer, fasilitas strategis, hingga kawasan diplomatik di wilayah Teluk.
Eskalasi konflik meningkat tajam setelah serangan awal AS dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei. Balasan Iran dilakukan melalui serangan drone dan rudal ke berbagai titik yang dinilai terkait kepentingan militer Barat.
Di Bahrain, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim menyerang pangkalan udara Amerika di Sheikh Isa. Sebanyak 20 drone dan tiga rudal disebut diluncurkan dalam operasi subuh hari.
IRGC mengklaim serangan tersebut menghancurkan markas komando utama pangkalan. Namun hingga kini belum ada verifikasi independen terkait tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Di Arab Saudi, dua drone dilaporkan menghantam area sekitar Kedutaan Besar AS di Riyadh. Serangan itu memicu kebakaran kecil dan kerusakan material terbatas di bangunan diplomatik.
Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan telah mencegat delapan drone di dekat Riyadh dan Al-Kharj. Langkah pertahanan udara ini menunjukkan ketegangan telah memaksa negara Teluk meningkatkan kesiapsiagaan militer.
Di Qatar, militer setempat mengonfirmasi berhasil mencegat dua rudal balistik yang menargetkan wilayah domestik. Ledakan keras sempat terdengar di Doha sebelum sistem pertahanan diaktifkan.
Sementara di Iran, dua ledakan dilaporkan terjadi di sekitar kantor pusat Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) di Teheran. Israel sebelumnya mengklaim telah menyerang fasilitas tersebut sebagai bagian dari operasi militernya.
Konflik juga merembet ke Lebanon dan Irak. Kantor televisi Al-Manar di Beirut selatan dilaporkan terkena serangan Israel, sementara kelompok Perlawanan Islam di Irak mengklaim menyerang fasilitas yang menampung pasukan AS di Erbil.
Di Uni Emirat Arab, pangkalan udara Al Minhad dekat Dubai yang digunakan Australia ikut menjadi sasaran drone. Pemerintah Australia memastikan tidak ada korban dalam insiden tersebut.
Penutupan Selat Hormuz menjadi perkembangan paling krusial dalam eskalasi ini. Jalur vital distribusi minyak dunia tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global dan mengguncang stabilitas ekonomi kawasan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung lebih dari satu bulan. Pernyataan itu mempertegas bahwa konflik belum menunjukkan tanda mereda dalam waktu dekat.
Perluasan serangan ke negara-negara Arab mengubah konflik bilateral menjadi krisis regional. Stabilitas politik dan keamanan di Timur Tengah kini berada dalam tekanan serius.
Situasi ini memperlihatkan betapa cepat konflik geopolitik bisa meluas lintas batas negara. Dunia kini menunggu apakah eskalasi ini akan terkendali atau justru memicu ketegangan global yang lebih besar.