Debt Collector Digantikan AI, Startup Amerika Klaim Tangani 70 Juta Panggilan Per Bulan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 Jun 2026, 16:40 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Teknologi AI kini mulai digunakan untuk pekerjaan yang selama ini identik dengan panggilan penagihan utang. Sejumlah perusahaan di Amerika Serikat dilaporkan sudah memakai chatbot suara berbasis AI untuk menghubungi nasabah yang memiliki tunggakan pembayaran.

Menurut laporan terbaru, agen AI ini mampu melakukan percakapan yang terdengar seperti manusia. Selain mengingatkan tagihan, sistem juga dapat menawarkan opsi pembayaran dan skema pelunasan secara otomatis sesuai kondisi pelanggan.

Salah satu contoh yang disorot adalah bot bernama Eve. Dalam sebuah kasus, Eve menghubungi seorang pria terkait tunggakan sewa rumah senilai 266 dolar AS atau sekitar Rp4,7 juta. Saat percakapan berjalan di luar skenario normal, sistem tetap merespons dengan tenang sebelum akhirnya meneruskan panggilan ke petugas manusia.

Kemampuan AI ini tidak berhenti pada percakapan dasar. Sistem disebut dapat menyesuaikan aksen, intonasi, dan gaya komunikasi berdasarkan profil orang yang ditelepon. Bahkan, perbedaan aksen bahasa Spanyol dari negara yang berbeda diklaim bisa dikenali secara otomatis.

AI juga dirancang untuk mendeteksi situasi sensitif seperti kondisi sakit, kebangkrutan, atau adanya anggota keluarga yang meninggal dunia. Jika mendeteksi kondisi tersebut, percakapan akan langsung dialihkan ke staf manusia untuk penanganan lebih lanjut.

Sejumlah perusahaan bahkan mengembangkan profil psikografis pelanggan berdasarkan riwayat interaksi sebelumnya. Tujuannya adalah membuat pendekatan penagihan terasa lebih personal sehingga peluang pembayaran menjadi lebih besar.

Meski dianggap lebih sopan dan tidak mudah terpancing emosi, penggunaan AI debt collector memunculkan sejumlah kekhawatiran. Mulai dari risiko salah menghubungi orang, potensi kebocoran data, hingga kemampuan AI melakukan ribuan panggilan dalam waktu bersamaan. Di sisi lain, pasar teknologi ini terus berkembang pesat, dengan nilai industri yang diperkirakan mencapai hampir 16 miliar dolar AS dalam satu dekade mendatang.