Desainer Amerika Terlalu Terjebak Nostalgia?

Oleh Zahra Zahwa pada 14 Feb 2026, 15:55 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Musim ini, sejumlah desainer Amerika tampak menjadikan masa lalu mereka sendiri sebagai sumber inspirasi utama. Marc Jacobs, misalnya, secara terbuka menyebut koleksinya dari 1993, 1995, 1998, 2003, dan 2013 sebagai referensi dalam catatan peragaan busananya. Sementara Michael Kors yang merayakan 45 tahun mereknya, mengambil inspirasi dari koleksi Fall 1998.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah nostalgia mampu menyelamatkan industri mode Amerika yang tengah tertekan oleh tarif perdagangan, runtuhnya department store, serta lanskap ritel dan media yang semakin homogen? Atau justru para desainer terlalu asyik bernostalgia hingga melupakan kebutuhan konsumen masa kini?

Beberapa nama memang identik dengan pendekatan retrospektif. Ralph Lauren, misalnya, sejak lama dikenal piawai meramu gaya klasik dengan sentuhan personal yang kuat. Filosofinya adalah memadukan elemen yang nyaris usang dengan individualitas yang berani dan pendekatan itu terbukti tetap laris.

Namun di tengah era Instagram dan budaya selebritas, di mana busana kerap dirancang demi viralitas, konsumen justru semakin condong pada produk vintage dan secondhand. Mereka mencari keaslian, bukan sekadar “versi baru dari gaya lama.” Pertanyaannya, apakah mengulang kejayaan masa lalu benar-benar menjawab kebutuhan itu?

Koleksi Jacobs yang terinspirasi era 1990-an dengan siluet ramping dan detail glamor yang subtil seakan menjadi sinyal berakhirnya era “clickbait fashion.” Meski demikian, pakaian yang mudah dikenakan saja tidak cukup. Mode, pada hakikatnya, juga harus menawarkan sesuatu yang unik dan sedikit eksentrik sebuah bukti kehidupan di tengah dunia yang serba seragam.

Lauren memahami bahwa pelanggannya bukan hanya membeli jaket bermotif klasik atau celana lipit, melainkan juga ide styling yang menyertainya. Setelah kembali ke runway pria di Milan Januari lalu, para penggemar mode membedah setiap tampilan untuk mencari inspirasi. Nilai jualnya bukan semata nostalgia, tetapi cara memakainya di masa kini.

Beberapa desainer dinilai berhasil menghadirkan keseimbangan tersebut. Michael Kors tampil kuat lewat rancangan outerwear yang elegan namun praktis “di New York, mantel adalah kartu nama Anda,” ujarnya. Sementara Wes Gordon di Carolina Herrera menghadirkan koleksi yang merayakan perempuan modern dengan mantel canggih, set rajut chic, dan gaun bermotif yang tak berlebihan.

Namun tidak semua rumah mode sukses memadukan warisan dengan pembaruan. Proenza Schouler, yang dahulu digadang sebagai masa depan mode Amerika, kini mencoba bangkit dengan menunjuk Rachel Scott sebagai direktur kreatif. Tantangannya adalah bagaimana menghormati “kode” lama tanpa terjebak di dalamnya.

Hal serupa terlihat di Calvin Klein yang memasuki musim ketiga reboot di bawah desainer Italia Veronica Leoni. Alih-alih terasa segar, koleksinya dinilai seperti campuran nostalgia 1990-an, 2010-an, dan minimalisme era 2020-an tanpa arah jelas lebih menyerupai produk korporat ketimbang ekspresi personal yang autentik.

Pada akhirnya, nostalgia bisa menjadi alat yang kuat namun bukan tujuan akhir. Mode tidak hanya tentang mengulang masa lalu, melainkan juga tentang merespons zaman. Dalam dunia yang semakin kompleks, desainer dituntut bukan sekadar menghadirkan kenangan, tetapi menawarkan perspektif baru yang relevan dan berani.