JAKARTA, Cobisnis.com - Timbul (49), warga Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tengah menghadapi persoalan terkait biaya pendidikan anaknya.
Timbul yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak harus memikirkan biaya kuliah anak setelah status desil kesejahteraan keluarganya berubah dari desil 1 menjadi desil 9.
Perubahan tersebut turut memengaruhi akses keluarganya terhadap sejumlah program bantuan, termasuk dukungan biaya pendidikan untuk anaknya.
Lutfi Arya Wijaya (18), anak Timbul, diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada jurusan mesin setelah menyelesaikan pendidikan di SMK. Namun, kabar tersebut justru membuatnya khawatir karena kondisi ekonomi keluarganya.
"Anak sambat mau kuliah. Tapi saya tukang becak, masuk Desil 9. Anak nangis karena sudah telanjur daftar," kata Timbul, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (25/8/2026).
Sejak masih bersekolah, Lutfi sudah memahami kondisi ekonomi keluarganya. Uang saku sekitar Rp20.000 setiap hari tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian uang tersebut disisihkan untuk ditabung.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Timbul tetap berusaha agar pendidikan anaknya dapat berlanjut hingga perguruan tinggi. Ia berharap Lutfi memiliki masa depan yang lebih baik dan tidak harus menjalani pekerjaan yang sama seperti dirinya.
Untuk memenuhi kebutuhan kuliah anaknya, Timbul berencana terus bekerja sebagai tukang becak sembari mencari jalan untuk memenuhi biaya pendidikan.
Perubahan Desil Dipertanyakan
Timbul mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan perubahan status kesejahteraannya dari desil 1 menjadi desil 9 terjadi. Ia juga tidak menerima pemberitahuan mengenai perubahan tersebut.
Kondisi itu membuat Timbul mempertanyakan dasar penetapan status desil keluarganya. Menurutnya, kondisi kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan bahwa keluarganya berada dalam kategori kesejahteraan tinggi.
Timbul memang tinggal di rumah yang sudah memiliki dinding dan sebagian lantainya telah menggunakan keramik. Namun, rumah tersebut bukan sepenuhnya miliknya karena tercatat atas nama tujuh keluarga.
Ia juga memiliki sebuah sepeda motor. Kendaraan tersebut digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, terutama perjalanan dari Lendah menuju Yogyakarta.
Sementara itu, becak mesin yang digunakan untuk bekerja ditinggalkan di wilayah Bantul.