JAKARTA, Cobisnis.com - Sebanyak 13 pekerja migran irregular asal Sumatera Utara diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO di Madagaskar. Mereka awalnya dijanjikan pekerjaan dengan gaji puluhan juta rupiah, namun disebut berakhir menjadi operator judi online dan scamming.
Ketua Tim Perlindungan BP3MI Wilayah Sumut, Enceng Supiyanto, mengatakan keluarga para korban mulai melapor pada September 2026. Dari laporan tersebut, terdapat 13 keluarga yang mengadukan kondisi anggota keluarganya.
Enceng mengatakan para korban rata rata mencari pekerjaan melalui media sosial. Mereka kemudian mendapat tawaran bekerja di luar negeri dengan iming iming penghasilan puluhan juta rupiah.
"Ada yang diajak kerja di Australia menjadi pemetik buah. Ada yang diajak menjadi pekerja rumah tangga di Taiwan. Terus ada yang dijanjikan kerja di restoran Madagaskar. Gajinya bisa puluhan juta," ujar Enceng.
Para korban kemudian diarahkan mengikuti penerbangan yang telah ditentukan. Biaya penerbangan disebut ditanggung perusahaan, sementara keberangkatan dilakukan dengan status pekerja migran irregular karena dokumen yang sesuai aturan tidak diurus.
" Nah, ternyata ujungnya mereka ini dibawa ke Madagaskar dan dijadikan operator judi online dan scamming," kata Enceng.
Menurut Enceng, para korban juga mengalami kekerasan selama bekerja di Madagaskar. Perusahaan tempat mereka bekerja kemudian dirazia hingga para korban ditangkap petugas keamanan dan saat ini masih menjalani penahanan.
BP3MI Sumut telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Madagaskar untuk mengupayakan pemulangan para korban. Hingga kini, pihaknya masih menunggu informasi tindak lanjut dari KBRI Madagaskar.
Salah satu korban yang disebut dalam laporan tersebut adalah Wulamsari, 27 tahun, warga Kota Medan. Ia diduga menjadi korban TPPO setelah menerima tawaran pekerjaan bergaji tinggi di Malaysia, tetapi kemudian dibawa ke Madagaskar.
Kakak Wulamsari, Julianto, mengatakan adiknya awalnya berangkat dari Bandara Kualanamu menuju Malaysia pada April 2026. Namun, setelah tiba di Malaysia, Wulamsari disebut langsung dibawa ke Madagaskar tanpa mengetahui rencana tersebut sebelumnya.
"Awalnya pergi ke Malaysia dari Bandara Kualanamu diiming imingi gaji besar. Tapi dari Malaysia langsung transit ke Madagaskar tanpa sepengetahuan dia. Habis itu hilang kontak," ujar Julianto.
Komunikasi Wulamsari dengan keluarga baru kembali terjalin sekitar dua pekan sebelum laporan tersebut disampaikan. Menurut Julianto, adiknya saat itu menangis dan meminta pertolongan karena mengaku dijebak bekerja sebagai operator judi online.
"Dua minggu lalu baru komunikasi lagi terakhir dia minta tolong, menangis. Bahwasanya dia di sana dianiaya, perempuan dilecehkan dan laki laki dianiaya," tutur Julianto.
Keterangan mengenai dugaan kekerasan dan pelecehan tersebut berasal dari penuturan keluarga berdasarkan komunikasi dengan Wulamsari. Dalam sumber yang digunakan, belum terdapat keterangan mengenai hasil verifikasi pemerintah atau aparat penegak hukum terkait kondisi tersebut.
Keluarga Wulamsari telah meminta bantuan pemerintah untuk memulangkan korban. Mereka berharap Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia di Madagaskar dapat membantu proses evakuasi serta memastikan keselamatan Wulamsari.