Diplomat PBB Mundur, Sebut Ada Skenario Serangan Nuklir ke Iran

Oleh Hidayat Taufik pada 01 Apr 2026, 19:49 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Seorang diplomat senior yang terkait dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundurkan diri setelah mengungkap adanya dugaan persiapan skenario penggunaan senjata nuklir di Iran di tengah konflik yang masih berlangsung.

Dilaporkan oleh NDTV pada Selasa (31/3/2026), Mohamad Safa yang menjabat sebagai perwakilan utama Patriotic Vision (PVA) di PBB, mengumumkan pengunduran dirinya melalui media sosial X. Dalam pernyataannya, ia menyertakan surat resmi yang menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.

PVA sendiri merupakan organisasi internasional yang memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).

Dalam pernyataannya, Safa mengaku telah mempertimbangkan langkah tersebut secara matang. Ia menilai ada sejumlah pejabat senior PBB yang diduga lebih melayani kepentingan lobi tertentu dibandingkan menjalankan tugas untuk organisasi.

“Saya memutuskan untuk menghentikan semua tugas saya sebagai perwakilan PVA di PBB dan dari seluruh komite atau kelompok yang saya ikuti,” ujar Safa.Ia juga menegaskan tidak dapat melanjutkan perannya karena merasa tidak sejalan secara moral dengan situasi yang sedang terjadi.

“Saya tidak bisa, dengan hati nurani yang bersih, tetap menjadi bagian dari apa yang sedang terjadi, terutama ketika ada persiapan untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir,” tambahnya.

Dalam unggahan terpisah yang viral di media sosial, Safa menyebut bahwa PBB tengah mempersiapkan skenario menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran. Ia juga menyoroti seriusnya situasi yang berkembang saat ini.

Melalui unggahan tersebut, Safa memperlihatkan kondisi ibu kota Teheran dan menekankan bahwa kota tersebut dihuni oleh jutaan warga sipil.Ia mengingatkan bahwa dampak perang, terutama jika melibatkan senjata nuklir, akan sangat besar terhadap kehidupan masyarakat sipil, termasuk keluarga dan anak-anak.

Pernyataan Safa pun memicu perhatian luas dan perdebatan global mengenai eskalasi konflik serta potensi risiko penggunaan senjata nuklir di kawasan tersebut.