JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 4,43% pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi dan sempat menyentuh level 7.588,38. Pelemahan tajam ini terjadi sejak pembukaan sesi I dan memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menyampaikan tekanan pasar dipicu meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Situasi memanas setelah Iran menutup pelayaran di Selat Hormuz.
Penutupan jalur strategis tersebut memunculkan kekhawatiran krisis energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan itu langsung berdampak pada harga energi.
Kenaikan harga minyak dunia sudah mulai tercermin di pasar komoditas. Lonjakan tersebut memicu sentimen negatif di bursa saham, termasuk di Indonesia yang masih sensitif terhadap fluktuasi energi global.
BEI menegaskan pelemahan IHSG bukan terjadi secara terisolasi. Sejumlah indeks saham regional juga mengalami tekanan signifikan dalam waktu bersamaan.
Indeks Kospi di Korea Selatan bahkan sempat mengalami trading halt setelah terkoreksi lebih dari 8%. Selain itu, indeks seperti Kosdaq, Nikkei, SET Thailand, Taiwan TAIEX, dan ASX Australia ikut bergerak turun tajam.
Kondisi ini menunjukkan tekanan berasal dari sentimen global, bukan faktor domestik semata. Investor cenderung melakukan aksi jual untuk mengamankan aset di tengah ketidakpastian.
Bagi Indonesia, gejolak harga minyak berpotensi berdampak pada inflasi dan beban impor energi. Ketika harga minyak naik, tekanan terhadap nilai tukar dan subsidi energi bisa ikut meningkat.
Pelaku pasar kini menanti respons kebijakan lanjutan, baik dari otoritas moneter maupun pemerintah. Stabilitas pasar keuangan menjadi perhatian utama agar kepanikan tidak meluas.
Di tengah tekanan tersebut, investor ritel diimbau tetap rasional dan tidak terbawa sentimen sesaat. Pergerakan pasar global masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dalam beberapa hari ke depan.