Dokter Ungkap Bahaya Obesitas bagi Perempuan dari Remaja hingga Menopause

Oleh Dwi Natasya pada 30 Jul 2026, 21:24 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Obesitas tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan berat badan atau penampilan, tetapi merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat memengaruhi kesehatan perempuan secara menyeluruh. Mulai dari kesehatan metabolik, kardiovaskular, mental, hingga reproduksi, dampak obesitas dapat terjadi sejak usia remaja hingga masa pascamenopause.

Dalam diskusi media bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women’s Health, Novo Nordisk Indonesia mengajak masyarakat memahami pentingnya penanganan obesitas secara komprehensif dan berbasis sains. Pendekatan tersebut meliputi perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, hingga terapi medis sesuai evaluasi tenaga kesehatan.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. Prevalensi obesitas pada perempuan juga tercatat lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yakni 36,4 persen berbanding 24,4 persen.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, mengatakan obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis sekaligus mengganggu kesehatan reproduksi perempuan. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan siklus menstruasi, ovulasi, infertilitas, hingga meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan.

“Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi,” ujar dr. Cynthia.

Ia menjelaskan salah satu kondisi yang berkaitan dengan obesitas adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Perubahan nama tersebut mencerminkan pemahaman bahwa gangguan ini bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormonal dan metabolik yang kompleks.

Menurut dr. Cynthia, sekitar 35 hingga 50 persen perempuan dengan PMOS juga mengalami obesitas yang dapat memperburuk gejala serta meningkatkan risiko komplikasi metabolik dan reproduksi. Karena itu, pengelolaan obesitas perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, tersedia berbagai pilihan terapi untuk membantu pengelolaan obesitas, termasuk terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang bekerja mengatur rasa lapar dan kenyang sebagai pelengkap perubahan gaya hidup. Novo Nordisk Indonesia juga menghadirkan platform edukasi NovoCare.id untuk membantu masyarakat memperoleh informasi berbasis sains mengenai obesitas, skrining awal melalui kalkulator BMI, serta mendorong konsultasi dengan tenaga kesehatan guna mendapatkan penanganan yang tepat.