Sejarah Kebaya Terungkap, Busana Tradisional yang Jadi Lambang Status dan Identitas

Oleh Hidayat Taufik pada 30 Jul 2026, 12:09 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Kebaya tidak hanya dikenal sebagai busana tradisional yang kerap dikenakan dalam acara resmi maupun perayaan budaya. Pada masa lampau, kebaya juga memiliki makna sosial karena mencerminkan status, identitas, hingga kedudukan seseorang di tengah masyarakat.

Fashion stylist sekaligus creative director yang menaruh perhatian pada sejarah dan budaya, Rumi Siddharta, menjelaskan bahwa cara berpakaian pada masa lalu memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar mengikuti tren atau selera.

Menurutnya, melalui pakaian yang dikenakan, masyarakat dapat mengetahui latar belakang sosial, posisi, bahkan identitas budaya seseorang. Hal tersebut terlihat dari jenis kain, kualitas bahan, motif, hingga teknik pembuatan busana yang digunakan.

Rumi mengatakan, pada masa itu masyarakat tidak bebas memilih pakaian. Cara berbusana dipengaruhi oleh aturan adat, kebiasaan, serta nilai budaya yang berlaku di setiap daerah.

Bahkan, di sejumlah wilayah terdapat motif kain dan jenis busana tertentu yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan. Karena itu, pakaian menjadi simbol yang menunjukkan kedudukan seseorang dalam lingkungan sosialnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kebaya tidak pernah dikenakan secara terpisah. Busana tersebut selalu dipadukan dengan kain, selendang, perhiasan, serta berbagai aksesori yang ikut memperlihatkan identitas pemakainya.

Perkembangan kebaya sendiri dipengaruhi oleh interaksi masyarakat Nusantara dengan berbagai bangsa melalui jalur perdagangan. Sentuhan budaya dari India, Tiongkok, Arab, Persia, hingga Eropa kemudian berpadu dengan tradisi lokal dan melahirkan beragam model kebaya yang dikenal hingga saat ini.