Dolar AS Tembus Rp17.800, Ini Penyebabnya

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 21 Sep 2026, 15:38 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali berada di level tinggi hingga mencapai Rp17.847 pada Senin (21/9/2026).

Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan ketegangan di kawasan tersebut turut mendorong harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel.

Kondisi itu meningkatkan risiko inflasi global sekaligus menambah tekanan terhadap prospek fiskal.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujar Erwin, dikutip dari berbagai sumber, Senin (21/9/2026).

BI menyatakan akan terus berada di pasar untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik dan mempertahankan stabilitas nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang serta penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar.

BI juga akan memperkuat stabilisasi nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

Di sisi lain, intervensi pasar akan dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Langkah tersebut juga disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar turut dilakukan untuk mendorong masuknya modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang tersedia.

BI juga berupaya mendiversifikasi kebutuhan valuta asing melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Erwin mengatakan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%.

"Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," kata Erwin.